Selasa, 08 April 2008

sang Penebus


RESENSI BUKU
Oleh: Moh. Ali Fauzi*,

Judul : Sang Penebus
Penulis : Wally Lamb
Alih Bahasa : Esti A. Budihapsari
Tebal : 951 hlm.
Cet. : I, November 2007
Penerbit : Qanita, Bandung


KISAH JIWA YANG HILANG

Wally Lamb melakukannya lagi untuk kita. Sebelumnya, tahun 1992, dengan novel yang berjudul She’s Come Undone, Wally Lamb memenangkan hati pembacanya dengan kisahnya yang sangat menyentuh dan emosional. Narasi yang kuat, karakter tokoh yang memukau dan menyentuh hati setiap pembaca, novel She’s Come Undone dinobatkan sebagai Book of the Year tahun 1992 oleh beberapa media massa di Amerika.
Bagi yang pernah membaca novel tersebut pasti tak pernah melupakan tokoh Dolores Price yang sedang duduk di depan televisi sambil makan kentang goreng. Dia bukan pecandu makanan. Dia putus asa dengan dirinya, dia bingung menghadapai hidupnya yang penuh masalah. Dia telah membuat suatu kesalahan. Kadang, dia belajar dari kesalahan itu, terkadang dia melupakannya sama sekali. Tapi kita selalu simpati atas usaha-usaha yang dilakukannya. Sungguh menakjubkan, Wally Lamb yang merupakan seorang laki-laki mampu menulis dengan sangat detail dan menyentuh tentang apa yang ada dalam hati dan kepala seorang perempuan. Lamb mampu melakukannya dengan sangat baik.
Ya, Wally Lamb mempersembahkan hadiah lagi kepada pembaca. Novel “Sang Penebus” yang berjudul Asli I Know This Much is True ini bukan sekedar novel, melainkan juga pengalaman dan pelajaran hidup. Inilah karakter yang membuat kita terdiam begitu selesai membaca novelnya. Wally Lamb merupakan di antara beberapa penulis yang mampu membuat narasi di atas 900 halaman tanpa membuat jenuh pembacanya. Bahkan setelah 900 halaman, pembaca tetap tidak ingin meninggalkan dunia yang telah diciptakannya untuk kita atau oleh tokoh-tokoh rekaan yang hidup disana.
Novel Sang Penebus ini berat. Ya, berat memulainya dan sangat berat pula melepaskannya. Layaknya emosi-emosi James Patterson yang selalu menarik terus pembacanya tanpa mau melepaskannya.
Novelis besar berleher merah dan pemenang nobel sastra tahun 1949 dari Mississippi, William Faulkner, pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah benar-benar menulis cerita, dia hanya mengikuti karakter-karakter tokohnya dalam menulis novel. Hasilnya, setiap cerita berkembang sangat memikat, tak terduga, dan menggetarkan. Wally Lamb melakukan hal yang sama terhadap novelnya. Karakter menjadi kendaraannya dalam bercerita, bukan plot ataupun alur. Dan terbukti, karakter tokoh Lamb begitu hidup dan dekat, kadang membuat kita tertawa, menangis, marah, simpati, merasa kehilangan, dan terharu.
Lamb membuka kisahnya dengan tindakan Thomas yang mengerikan, yakni memotong tangan kanannya dan mengumumkannya sebagai pengorbanan atas nama Tuhan. Sebuah sikap pengorbanan dan kekecewaan atas ketimpangan hidup yang terlalu kompleks. Thomas adalah saudara kembar dari Dominick Birdsey. Thomas dan Dominick adalah saudara kembar yang lahir di tahun yang berbeda. Yang satu di menit-menit akhir tahun 1949, dan satunya lagi di menit-menit awal tahun 1950. Yang satu tampak kuat, melindungi, sekaligus menakutkan, yaitu Dominick. Dan satu lagi tampak lemah, manis, namun mulia, yaitu Thomas.
Hidup bersama ibu kandung dan ayah tirinya, Dominick selalu kuat dalam menghadapi hidup termasuk kekejaman sang ayah tiri. Dominick menghadapi banyak rintangan untuk mendapatkan kebahagiaan. Dia tak pernah tahu siapa ayahnya yang sebenarnya, keluarganya tak berfungsi dengan baik, perkawinannya dengan perempuan cantik yang selalu dicintainya bernama Dessa menjadi kacau dan hancur. Bagaimanapun, penderitaan itu semakin lengkap dengan sebuah kenyataan bahwa saudara kembarnya, Thomas, menderita Schizophrenia.
Lingkungan Amerika yang serba modern, cepat, sekaligus kejam menjadi setting yang sempurna dalam kisah ini. Novel ini menunjukkan dengan sangat tajam apa yang telah dialami masyarakat Amerika pada pertengahan kedua abad ke-20. Tema novel pun berkembang sangat beragam, dari kisah cinta, psikologi, penyakit mental, disfungsi keluarga, AIDS, pembunuhan, politik, hingga persoalan agama. Semua teramu dengan apik, begitu kuat, memilukan, dan sangat memikat dari halaman ke halaman.
Untuk menyeimbangkan hidup diri, saudara kembar, dan keluarganya yang masih tersisa, Dominick tidak hanya harus bergulat menghadapi beratnya hidup dan menghadapi masa lalunya yang kelam, namun juga harus menghadapi sebuah rahasia tentang diri dan masa lalu keluarganya. Dia pun melakukan perjalanan yang mengagetkan untuk menemukan misteri siapa sebenarnya ayah dan nenek moyangnya. Perjalanan inilah yang akan membawa dirinya ke titik balik kehidupan dalam dirinya. Sebuah perjalanan psikologis dan spiritual yang membawanya kepada penemuan buku catatan harian kakeknya yang berjudul The History of Domenico Onofrio Tempesta, a Great Man from Humble Beginnings. Buku inilah yang membuka semuanya.
Dengan kompleksitas makna dan tema yang dikandungnya, novel ini mengalir dengan sangat realistis seolah-olah kita menghadapinya. Sebuah novel yang seolah-olah merupakan derivasi atas karya Pat Conroy yang berjudul The Prince of Tides dan film Dominick and Eugene.
Wally Lamb dengan tokoh protagonisnya, Dominick, tidak hanya menyuguhkan sebuah novel melainkan juga sebuah saga, dongeng, yang terus menerus melahirkan makna. Sebuah kisah yang menguras simpati, empati, tawa dan air mata. Di tahun 1970-an, psikolog anak Bruno Bettelheim menulis “The Uses of Enchantment”, yang berpendapat bahwa sebuah dongeng seharusnya mengandung sebuah emosi yang mendidik bagi anak-anak, mengajari mereka tentang kehidupan, dan mengajari bagaimana menghadapi konflik di luar dan di dalam dirinya sendiri. Maka, novel Sang Penebus karya Wally Lamb ini sangat cukup untuk menjadi novel sekaligus dongeng.
Akhirnya, sebuah buku terkadang hadir dengan fantasi luar biasa, cerita kepahlawanan yang apik, dan penuh visi besar, yang kesemuanya menantang keberanian kita untuk melihat dunia di luar diri kita. Sedangkan buku yang lainnya datang lebih halus, lebih bijaksana, mengajak pembacanya berpikir dari dalam dirinya, memberinya kekuatan untuk menanyakan hidup, kepercayaan, Tuhan, tindakan-tindakan sexual, cinta, politik, atau apapun yang mungkin ada dalam pikiran pembacanya. Novel Sang Penebus ini merupakan wakil dari keduanya. Sebuah novel yang berani, halus, menyentuh, dan menggugah baik secara emosi maupun secara moral.[]

Read More..

Sabtu, 05 April 2008

The Pianist

RESENSI BUKU
Oleh : Ali Fauzi*, Peminat sastra dan kebudayaan, juga Redaktur majalah "Folder Buku" Yogyakarta

Judul : The Pianist
Penulis : Wladyslaw Szpilman
Alih bahasa : Agung Prihantoro
Cet. : I, 2005
Tebal : xiv + 354 hlm.
Penerbit : C Publishing, Yogyakarta

MUSIK DALAM KEKACAUAN PERANG

Terbit pertama kali dengan judul Death of a City di Polandia tahun 1946, buku ini langsung dilarang terbit oleh penguasa Polandia yang merupakan kaki tangan Stalin. Setelah itu tak pernah dicetak ulang, baik di Polandia maupun di luar negeri. Menurut Wolf Biermann, seperti yang dikatakan dalam penutup buku ini, "terlalu banyak kebenaran yang menyakitkan tentang kerja sama antara orang-orang Rusia, Polandia, Ukraina, Latvia, dan Yahudi dengan orang-orang Nazi Jerman".
Tahun 2002, karya Szpilman terbit dalam bentuk pita seluloid atau film dengan judul The Pianist arahan sutradara Roman Polanski. Film yang meraih sukses ini memenangi tiga Academy Award, termasuk sutradara dan aktor terbaik. Sebuah film yang harus menunggu empat dekade untuk membuatnya. Disebut-sebut sebagai film terbaik tentang pembunuhan massal setelah Schindler’s List karya Steven Spielberg.
Buku ini cukup memikat banyak orang, karena sekaligus menjadi dokumen perang yang tidak biasa. Tidak hanya kisah perseteruan perang, namun buku ini berisi detail-detail kemanusiaan yang bagi sebagian pihak terlalu menyakitkan sebagai kebenaran. Szpilman dapat menjelaskannya dengan apik, sehalus, dan sejujur alunan piano yang dimainkannya seumur hidup. Tidak sentimentil dan sangat menyentuh.
Dibuka dengan pengantar yang sangat bagus dari anak Wladyslaw Szpilman yang bernama Andrzej Szpilman, yang menceritakan bagaimana dia menemukan buku di rak buku ayahnya, ketika dia mencari tahu kenapa dirinya tidak pernah bertemu kakek nenek dari pihak ayah. Dia menyadari bahwa ayahnya bukanlah seorang penulis, melainkan "seseorang yang hidup dalam dan dengan musik". Namun, buku ini bisa sangat signifikan bagi banyak orang.
Kisah ini bermula ketika perang dunia II sampai ke tanah Polandia tahun 1939. Wladyslaw Szpilman lahir 5 Desember 1911 di Sosnowiec, Polandia; bekerja sebagai pianis untuk stasiun radio Polandia. Dia hidup dengan keluarganya di Ghetto (perkampungan minoritas yahudi) Warsawa, Polandia. Mereka adalah keluarga Yahudi.
Meletuslah perang antara Polandia melawan tentara Jerman. Tidak lama setelah itu, tentara Jerman pun berhasil menduduki Warsawa. Tembok pemisah antara tentara Jerman dan warga sipil Polandia ditegakkan dengan kokoh sebagai pembeda. Pembedaan ras, terutama bagi golongan Yahudi di Ghetto sangat menyiksa. Di sana, dari waktu ke waktu, warga yahudi hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Karena secara acak, mereka akan dibunuh dengan sia-sia oleh tentara Jerman.
Perburuan warga yahudi terus berlanjut hingga tahun 1942. sampai tiba waktunya, mereka harus diungsikan ke Umschlagplatz yang terletak di perbatasan Ghetto. Ini semacam kamp di tepi rel-rel kereta api yang dikelilingi oleh jalan-jalan, lorong-lorong, dan trotoar kotor. Sebuah tempat dengan masa depan yang tidak jelas, dimana semua orang mencurigainya sebagai kematian. Sikap tentara Jerman ini "seperti membawa biri-biri ke tukang jagal". Demikian salah satu kalimat yang terucap dengan nada pasrah.
Di Umschlagplatz inilah, akhirnya Szpilman berpisah dengan keluarganya, dan tak mendapatkan khabar apapun hingga dia meninggal. Dia diselamatkan oleh salah seorang tentara Yahudi yang peduli terhadapnya.
Dari seluruh 3,5 juta orang Yahudi yang pernah hidup di Polandia, 240.000 diantaranya mampu bertahan hidup selama kekuasaan Nazi. Sebagai catatan tambahan, diantara enam belas ribu orang Arya yang dikenang di Yad Vashem, sebuah situs penting Yahudi di Jerusalem, sepertiganya adalah orang Polandia.
Kisah Szpilman mencapai puncak ketika dia bertahan hidup terpisah dari keluarga dan orang-orang dekatnya. Dia termasuk salah satu diantara orang-orang yang dipekerjakan setiap hari di wilayah Arya di Warsawa, dan turut menyelundupkan ke dalam Ghetto, bukan hanya roti dan kentang, tetapi juga amunisi dan perlawanan Yahudi. Karena kelaparan yang sangat, perlawanan pun dapat dipatahkan dengan mudah. Perang di Polandia mencapai puncaknya. Szpilman dengan penuh ketakutan dan sembunyi-sembunyi, harus berlindung di belakang orang-orang non-Yahudi. Dia dipindahkan dan disembunyikan dari gedung satu ke gedung yang lain.
Dalam kondisi yang demikian, Szpilman sering mengalami kelaparan. Selama tiga sampai lima hari perutnya tak terisi makanan. Hal ini disebabkan oleh kondisi sembunyi-sembunyi dan pengiriman makanan yang tidak pasti. Namun, semangatnya untuk bertahan hidup tak mampu dipatahkan oleh rasa lapar.
Adalah sebuah kenyataan pada saat itu; apabila seseorang di Perancis menyembunyikan seorang Yahudi, akan dikirim ke penjara atau ke kamp konsentrasi; di Jerman, akan dihukum mati; tetapi di Polandia, seluruh keluarga anda akan dihukum mati.
Kisah panjang Szpilman ini akhirnya menemui sedikit kelegaan, ketika dia dalam kondisi setengah sekarat, ditemukan diantara reruntuhan kota Warsawa dan diselamatkan oleh tentara Jerman kapten Wilm Hosenfeld. Bahkan, Hosenfeld membawakan Szpilman makanan, selimut, dan mantel ke tempat persembunyiannya.
Buku ini ditulis oleh Szpilman persis setelah masa-masa perang tersebut. Peristiwa yang terbentang antara tahun 1939 sampai dengan tahun 1945. Aroma perang dan detail traumanya sangat terasa. Sebuah buku yang di satu sisi menjadi catatan harian mengenang selama perang. Dan di sisi lain, buku ini menjadi semacam terapi bagi Szpilman setelah masa-masa traumatik yang panjang dan melelahkan. Namun, semuanya diungkapkan dengan halus dan mengalir begitu saja. Menurut saya Szpilman adalah seorang penulis yang baik. Dia mampu menerangkan dengan sangat bagus hal-hal yang seharusnya kita ketahui dengan benar.
Setelah berkeliling dunia bermain musik, Szpilman hidup dan tinggal di Warsawa hingga meninggal pada 6 Juli 2000.
Kisah yang hampir sama bagusnya dengan buku aslinya mampu divisualisasikan oleh Roman Polanski. Inspirasi terkuat Roman Polanski dalam membuat film The Pianist datang dari sebuah kenyataan bahwa dia juga pernah menjadi tahanan di Ghetto, Polandia selama perang dunia II. Dia kembali ke Polandia dari Perancis dengan orang tuanya hanya dua tahun sebelum PD II dimulai. Ibunya meninggal di kamp konsentrasi. Dan dia bertemu kembali dengan bapaknya pada tahun 1945.
Akhirnya, The Pianist menjadi semacam catatan harian di ‘neraka’. Namun, kebenaran yang menjadi larangan di masa lalu, menjadi memikat dan menarik perhatian di masa kini. Kebenaran yang diungkapkannya adalah sebuah fakta dari sisi lain kebenaran itu sendiri.

Read More..

‘THE RING’ DAN PESAN KEMATIAN

RESENSI BUKU
Oleh : Ali Fauzi*, Pustakawan, tinggal di Yogyakarta

Judul : RING
Penulis : Koji Suzuki
Penerjemah : Utti Setiawati
Tebal : 433 hlm.
Cet. : I, November 2005
Penerbit : Qanita, Bandung

‘THE RING’ DAN PESAN KEMATIAN

Koji Suzuki sering disebut sebagai Stephen King dari Jepang. Novel-novel horornya memikat tidak hanya bagi masyarakat Jepang. Karya masterpiece-nya yang berjudul "Ring", telah memukau banyak orang dan menghasilkan tren supernatural baru di seluruh dunia.
Sejarah dunia mencatat dan mengenal Jepang sebagai sebuah negara dengan tradisi lokal tinggi dan teknologi yang maju. Kondisi masyarakatnya yang konsumerisme telah menjadi ancaman bagi keberlangsungan tradisi-tradisi lokal. Persinggungan keduanya terus terjadi. Kondisi inilah yang ditangkap dengan baik oleh Koji Suzuki. Novel yang telah difilmkan di Jepang dengan judul Ringu dan di Hollywood dengan judul Ring ini menggambarkan teror di Jepang pada era postmodern. Sebuah teror yang lahir dari perpaduan tradisi lokal dan dunia modern di Jepang. Sungguh, ancaman ini adalah teror psikologis yang mengkhawatirkan.
Situasi pertentangan antara nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru yang terjadi di Jepang dan dunia secara keseluruhan inilah yang telah memberi kekuatan makna tersendiri bagi novel ‘Ring’. Novel ini menarik bukan hanya karena ceritanya yang menegangkan, menakutkan, dan mencekam. Novel yang bersetting di Tokyo ini sangat kompleks, memuat tema-tema seperti misanthropy, hermaphrodisme, gender, kasih sayang, penyakit, media, moralitas, juga nilai-nilai utilitarianisme. Sebuah perpaduan genius yang memikat.
Kisah menarik ini diawali ketika suatu malam di Tokyo, empat remaja tewas dengan tidak wajar di tempat terpisah. Kazuyuki Asakawa, seorang jurnalis surat kabar di Tokyo, adalah orang pertama yang menyadari dan mengetahui peristiwa tersebut dan kemudian tertantang untuk mengungkap misteri di balik kematian yang tidak wajar dan sulit dipahami tersebut.
Ya, semua bermula dari kisah supir taksi mengenai tewasnya Shuichi Iwata yang kemudian mengingatkan Asakawa kepada keponakan istrinya, Tomoko Oishi, yang juga tewas pada malam yang sama dan dengan penyebab yang sama: serangan jantung mendadak. Keyakinan Asakawa pun menguat setelah ia mendapatkan berita dua orang remaja lainnya yang juga tewas pada malam yang sama. Bahwa peristiwa tersebut tidak sekedar kebetulan, melainkan ada misteri yang terselubung. Oleh virus atau apapun.
Penulis novel ini, Koji Suzuki, sengaja membangun karakter cerita dengan sederhana, kuat dan cepat. Setelah melakukan penelusuran, Asakawa pergi ke sebuah resort di Hakone. Sebuah tempat dimana empat remaja tersebut menginap bersama seminggu sebelumnya dan menonton sebuah video yang mengandung kutukan kematian bagi penontonnya, termasuk Asakawa. "Siapapun yang menonton gambar-gambar ini ditakdirkan untuk mati pada jam yang sama satu minggu dari sekarang".
Kutukan itu sebenarnya memiliki penangkal. Celakanya, bagian yang mengatakan tentang penangkal itu, justru rusak terhapus. Maka, Asakawa harus berlomba dengan waktu memecahkan misteri penangkal atau ia sendiri harus mati seperti keempat remaja sebelumnya. Satu-satunya orang yang dapat membantu, yang ada dalam pikiran Asakawa adalah Ryuji Takayama, teman sekolahnya dulu yang juga seorang profesor filsafat.
Kisah ini mengalir begitu dingin dan mencekam. Penulis novel ini menghadirkan plot yang menakutkan dan mengejutkan, yang kesemuanya dibangun berdasarkan kehidupan sehari-hari. Cerita pun bergerak secara mengejutkan. Istri dan anak Asakawa ternyata juga telah menonton video tersebut. Asakawa menjadi takut dan berusaha lebih keras. Akhirnya, sedikit demi sedikit terkuaklah tabir gelap yang melingkupi kutukan itu. Si pembuat kutukan adalah Sadako, seorang gadis jelita yang meninggal dua puluh lima tahun lalu. Ia merekam video maut tersebut melalui lensa matanya dengan kekuatan supranatural yang dimilikinya, mencoba menyampaikan pesan kepada dunia luar (penonton) perihal kematiannya. Petualangan pun dimulai.
Yang membuat novel ini istimewa adalah kompleksitas makna yang dikandungnya. Misal, perubahan jenis kelamin tokoh protagonist Kazuyuki Asakawa yang laki-laki dalam novel menjadi tokoh protagonist berjenis kelamin perempuan dalam filmnya, baik yang di Jepang, (Ringu, 1998), maupun yang di Hollywood (Ring, 2002). Pertimbangan utama memilih tokoh perempuan adalah bahwa tradisi merawat anak perempuan di Jepang bersifat maternalistik atau tugas seorang ibu. Sebenarnya, pemilihan Suzuki dengan karakter laki-laki dalam novel ini adalah ingin memberi wacana baru atas tugas seorang ayah bagi masyarakat Jepang. Tema hermaphrodisme muncul dalam tokoh Sadako. Dan sepanjang novel, persoalan-persoalan moralitas, utilitarianisme bertaburan memperkuat karakter penceritaan novel ini.
Semakin menyentuh dan menarik. Novel ini juga menyajikan tema drama yang tampak kuat meski hanya muncul beberapa saat. Tepatnya, cinta seorang ayah terhadap istri dan anaknya. Sebagaimana diakui oleh Koji Suzuki, dasar tema novel ini sebenarnya tentang cinta Suzuki kepada anaknya. Disamping itu, tampaknya pengarang tidak ingin memberi celah bagi pembaca untuk mengernyitkan dahi. Dengan sangat detail dan apik, Koji Suzuki secara brillian telah menciptakan ketegangan yang mampu membuat betah pembacanya dari halaman ke halaman buku ini. Sebuah kisah horror yang tanpa melibatkan darah.
Bangunan kombinasi antara dimensi mistis dan ilmu pengetahuan modern yang tertuang dalam novel ini sungguh mengagumkan. Psikologi paranormal, studi atas dunia supernatural dan okultisme, seringkali dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun dalam buku ini, psikologi paranormal justru menjadi salah satu kunci untuk menyingkap struktur alam semesta. Hal inilah yang tampak bagi sebagian kalangan disebut sebagai pseudo-science.
Bungkusan lokal atas nilai-nilai universal dalam novel ini menjadikannya sebagai sebuah buku lintas dunia, meski sedikit terbatas ruang lingkupnya. Bagi penyuka kisah-kisah horror dan thriller psikologi, karya-karya Koji Suzuki sangat layak disimak. Bagi pecinta cerita detektif, buku ini sangatlah tidak mengecewakan.
Novel yang dalam versi Jepangnya telah terjual lebih dari tiga juta kopi ini pada akhirnya menjadi sebuah pesan kematian bagi dunia. Sebuah pesan yang akan menggugah kesadaran manusia terhadap diri dan peradabannya. Teror yang mengemuka dalam kisah novel ini hanya bagian dari "sebuah ujian bagi spesies manusia. Di setiap abad, Setan akan muncul kembali dengan samaran yang berbeda. Kau bisa membasminya, dan terus membasminya, tapi dia akan terus datang lagi, lagi, dan lagi"(hlm.433).
Peradaban manusia boleh maju setinggi langit. Namun, anak peradaban itu sendirilah yang akan melahirkan pembunuhnya. Ancaman akan hilangnya perdamaian, kenyamanan, dan ketenteraman manusia bisa menjadi semacam teror kematian untuk dunia. Selamatkanlah diri, keluarga, dan peradabanmu!. Inilah pesan utama buku ini.[]

Read More..