Sabtu, 05 April 2008

GENERASI YANG HILANG

RESENSI BUKU
Oleh : Moh. Ali Fauzi,* Pustakawan, Yogyakarta

Judul : FIESTA
Penulis : Ernest Hemingway
Alih bahasa : Rahmani
Tebal : 457 hlm.
Cet. : I, Juli 2005
Penerbit : Bentang, Yogyakarta

GENERASI YANG HILANG

Ernest Hemingway (1899-1961) merupakan sastrawan dunia yang memiliki gaya penulisan yang unik. Kata-katanya sederhana, kompleks, penuh isi, dan mempesona. Hadian Pulitzer dan Nobel sastra pernah menjadi miliknya. Novel Fiesta ini adalah novel panjang pertama Hemingway, yang kemudian melambungkan namanya dalam kesusastraan Amerika. Bahkan, masuk dalam seratus novel modern teratas abad ke-20.
Novel ini lahir pada masa-masa diantara dua perang dunia. Masyarakat mengalami peristiwa kehilangan diri dan harapan. Masa-masa ini dalam kesusastraan Amerika disebut sebagai masa "lost generation". Tokoh sastra masa itu diantaranya adalah Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, dramawan Thornton Wilder, penyair Archibald MacLeish, dan Hart Crane.
Karya Hemingway masa itu secara mayoritas menggambarkan dua tipe masyarakat; pertama, mereka yang kehilangan kepercayaan akan nilai-nilai moral dan sangat terguncang emosinya akibat pd I. Kedua, mereka yang masih memiliki kepercayaan sederhana akan hidup mereka, seperti petinju bayaran, ataupun pengadu banteng. Dalam Fiesta kita akan menemukan detail kisah yang mempesona sekaligus menjadi ingatan sejarah.
Kisah ini bermula di Paris, ketika beberapa karya epik T. S. Eliot The Waste Land dipublikasikan pada 1922. Di kota ini, Jake, lelaki yang dikebiri semasa perang sekaligus narrator dalam kisah ini, hidup dalam komunitas veteran perang di Paris. Suatu ketika dia mengenalkan temannya yang bernama Robert Cohn, lulusan universitas bergengsi di Amerika Serikat dan juga petinju amatir. Tidak seperti Jake yang bekerja setiap hari sebagai jurnalis berita, Cohn masih amatir dalam hal sastra; dia baru saja menerbitkan novel pertamanya dan kesulitan memulai untuk novel keduanya.
Ketika Jake mengenalkan Cohn kepada wanita yang dicintainya, Lady Brett Ashley dalam sebuah bistro, Cohn langsung jatuh cinta. Disamping mencintai dengan tulus kepada Jake, Lady Brett juga menemani kencan Cohn pada masa liburan di Kota San Sebastian, Spanyol. Selanjutnya, Lady Brett tidak mengharapkan apapun hubungan lebih dari Cohn.
Jalinan cinta ini semakin rumit ketika Brett tertarik kepada seorang matador belia, Pedro Romero. Cinta pun bersemi tidak bertepuk sebelah tangan
Hemingway memang merupakan penggemar fanatik adu banteng. Jalinan kisah cinta yang rumit dalam novel ini terasa lebih hidup, dengan kiasan Hemingway, dalam keriuhan fiesta dan pertunjukan adu banteng San Fermin.
Di tengah pesta habis-habisan dan pertunjukan kematian nyaris terjadi setiap hari, mereka ditantang untuk mempertanyakan makna perburuan kesenangan, perebutan cinta, dan apa yang sesungguhnya benar-benar berarti bagi mereka.
Setiap karakter dikembangkan lebih dari sekedar kata dan tindakan, juga lebih dari sekedar deskripsi. Meski demikian, kekuatan Hemingway tetaplah dibangun dengan menggunakan kata-kata sederhana, penuh isi. Konflik individu dan masyarakat dapat tersampaikan dengan sangat halus dan menusuk. Sebuah konflik yang akhirnya menemukan muara pada kemeriahan fiesta adu banteng.
Secara keseluruhan, karya Hemingway menggambarkan kisah-kisah kelam tentang kekalahan, ketidak berdayaan, kehilangan, dan kehampaan. Namun, sejak tahun 1930-an, novel Hemingway banyak bertemakan masalah-masalah sosial.
Hemingway adalah penulis yang mampu membentuk visi kita tentang tanah gersang eksistensial tempat orang-orang telah terputus hubungannya antara satu sama lain dan hidup dalam suatu atmosfer pencekikan emosional dan keputusasaan. Dia selalu berhasil menggambarkan hal-hal rumit dengan bahasa sederhana. Bahkan, ketika sedang mabuk, dia tetaplah seorang genius.
Fiesta bisa menjadi semacam karya yang mengingatkan tentang sebuah moralitas yang tak menentu dalam masyarakat yang merasa lelah dengan kondisi sosial yang kacau. Batasan nilai dan agama lantas dipertanyakan. Sebuah kenangan putus asa yang hadir dan kemudian berganti dengan kemeriahan tanpa henti, pesta tanpa habis.
Dalam menggambarkan kondisi masyarakat setelah perang dunia II, nama Raymond Chandler adalah nama yang paling besar dalam kesusatraan Amerika. Sedangkan Ernest Hemingway merupakan tokoh utama sastra masa-masa setelah Perang Dunia I yang disebut sebagai "lost generation".
Dalam dunia penulisan, Hemingway adalah seorang empu. Pada tahun 1954 dia memperoleh hadiah Nobel sastra. Puluhan karya telah dihasilkan. Kurang lebih lima diantaranya telah difilmkan; From Whom The Bell Tolls, The Killers, The Old Man And The Sea, The Snows Of Kilimanjaro, The Have And Have Not. Hemingway mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada tahun 1961 di Ketchum, Idaho.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar