RESENSI BUKU
Oleh : Ali Fauzi,* Pustakawan
Judul : STEPHEN KING ON WRITING
Penulis : Stephen King
Pengantar : Remy Sylado
Penerjemah : Rahmani Astuti
Tebal : xl + 413 hlm.
Cet. : I, September 2005
Penerbit : Qanita, Bandung
Belajar Menulis dari Stephen King
Tidak dapat disangkal, Stephen King adalah orang yang piawai dan selalu sukses membuat cerita dan meramu kata, dalam setiap karya-karyanya. Bahkan setelah seribu halaman, pembaca tetap tidak ingin meninggalkan dunia yang telah diciptakan oleh si pengarang untuk kita atau oleh tokoh-tokoh rekaan yang hidup disana. Dia selalu mampu menghipnotis pembacanya dan membuatnya betah. Tak heran, novelnya selalu ditunggu dan laris di pasaran.
Stephen King, si Raja Horor, sempat merasa ragu menulis buku ini. Menulis tentang menulis biasanya dilakukan bukan oleh para penulis novel populer seperti dirinya. Keyakinan itu datang lewat sahabatnya, Amy Tan, yang mengatakan bahwa buku ini boleh dan perlu ditulis oleh sang maestro seperti dirinya.
Hasilnya, buku yang berjudul asli On Writing: A Memoir of the Craft ini mendapat sambutan luar biasa, dan meraih penghargaan Bram Stoker Award pada tahun 2000 dalam kategori non-fiksi, penghargaan Horror Guild tahun 2001, dan Locus Award tahun 2001. Sebuah buku yang meneguhkan bahwa Stephen King tidak hanya jago menulis fiksi, tapi juga jago menulis non-fiksi.
Untuk membaca buku ini, anda tidak harus menjadi penggemar King. Seperti dalam setiap karyanya, King selalu menjadi penulis bersahabat. Buku Stephen King On Writing ini menyediakan sebuah klinik mini penulisan yang sangat nyaman, jujur, menghibur, dan inspiratif. Saat membaca buku ini, pembaca seperti sedang menghadapi sebuah novel gurih yang tanpa sadar—seperti saat kita menikmati novel-novel horornya—yang sudah menghanyutkan kita untuk tidak mengerjakan hal-hal lain selain melahapnya habis.
Buku ini dibuka dengan Curriculum Vitae (biografi) Stephen King. Dia mengisahkan kehidupan masa kecilnya dengan seorang ibu dan kakanya, ketergantungannya pada minuman keras dan heroin, pengaruh istrinya dalam hidup dan karier kepenulisan, kisah karyanya ditolak oleh beberapa penerbitan, dan semua kehidupan sebelum dia menjadi penulis terkenal.
Di bagian dua, inti buku ini, King berbagi ilmu dengan menjawab rasa penasaran banyak penggemarnya tentang bagaimana dia memiliki ketrampilan menulis, mendapatkan ide, meramu cerita dengan plot dan detail yang sangat logis, serta memilih diksi. King menunjukkan apa yang dapat kita pelajari tentang kosakata arcane dari H.P Lovecraft, kepadatan Hemingway, autentisitas Grisham, dan obscene artful dari Richard Dooling, fragemen sentence dari Jonathan Kelleremen.
Pelajaran menulis dari sang maestro ini, terasa sangat ringan baik bagi pemula, juga sangat berharga bagi para penulis senior. Sebuah buku pelajaran menulis tanpa merasa diajari, sehingga mampu menggerakkan kita dengan ringan dan penuh tekad. Seperti kata Remy Sylado dalam kata pengantar, “ia menulis dengan cerdas, dengan rasa, dengan ingatan yang tajam, dengan kebajikan, dengan kejujuran, serta tentu saja dengan bahasa yang plastis, sehingga orang yang membacanya telah masuk dengan senang hati ke dalam wilayahnya, terbuai, dan terpuaskan.”
“Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus dilakukan: banyak membaca dan banyak menulis. Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan pintas”, begitulah kata Stephen King. Karena, engkau tidak akan dapat memesona orang lain dengan kekuatan tulisanmu sebelum ada orang lain yang melakukan hal serupa itu kepadamu. Diawali dengan ‘peralatan’ dan persiapan yang harus dimiliki sebelum menulis, King juga melengkapi buku ini dengan contoh-contoh novel terkenal yang baginya penuh dengan kalimat-kalimat tidak perlu dan boros. Sungguh, kekayaan istimewa buku ini.
Buku ini hadir pada saat yang tepat. Ketika tayangan televisi mengisi hampir seluruh aktifitas kita, berarti telah mengambil sebagian besar waktu kita untuk membaca. Pengaruh buruk TV telah secara langsung membelusukkan masyarakat ke pola budaya instan, pamrih hadiah, konsumerisme, slogan gaya hidup, dan segala remeh temeh yang berbau pasar. Karena, dengan “mematikan kotak yang terus menerus berbunyi itu, maka kemungkinan kualitas hidupmu akan meningkat, demikian pula kualitas tulisanmu”(Hlm. 202).
King melengkapi buku ini dengan kisahnya tertabrak mobil pada tahun 1999. Dia menyelesaikan buku ini saat sedang terluka akibat kecelakaan tersebut. sebuah peristiwa yang justru membuat buku ini jauh lebih kuat dan mempesona. Buku ini ditutup dengan rekomendasi King atas sejumlah buku yang dibacanya selama tiga atau empat tahun terakhir ini, dan menurutnya, dalam beberapa hal telah mempengaruhi tulisannya.
Baru-baru ini Stephen King menjadi salah satu pemenang Quills Award untuk buku-buku populer, setelah pada tahun 2003 meraih penghargaan Medal 2003 dari National Book Foundation (NBF) AS, karena selama ini telah menulis lebih dari 200 cerita pendek dan 40 buku.
Kepiawaian King meramu dan mengolah kata, selalu mampu membuat orang untuk membaca, tak terkecuali bagi orang yang tidak pernah membaca buku. Kesuksesannya itulah yang dia terapkan dalam buku ini, yang berisi gabungan antara autobiografi dan saran, inspirasi dan instruksi. Sebuah buku yang menjadi ‘hadiah bagi para penulis’.
Membaca buku ini akan meninggalkan kesan seolah-olah kita mengetahui bagaimana rasanya berpikir seperti Stephen King. Bagi penulis, buku ini amatlah berharga. Bagi pembaca buku, buku ini amatlah penting untuk disimak. Bagi yang tidak suka keduanya, buku ini sangat layak untuk dipertimbangkan membaca di waktu-waktu senggang. Sungguh, akan bermanfaat.
Selasa, 01 April 2008
Belajar Menulis dari Stephen King
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar