Sabtu, 05 April 2008

Petualangan Yang Melelahkan

RESENSI BUKU
Oleh : Ali Fauzi*, Pustakawan, tinggal di Yogyakarta

Judul : LEDGARD; Musuh Dari Balik Kabut
Penulis : WD Yoga
Tebal : 600 hlm.
Cet. : I, Desember 2005
Penerbit : C Publishing, Yogyakarta

Petualangan Yang Melelahkan

Beberapa tahun terakhir ini, dunia penceritaan kita rindu akan karya novel putra bangsa yang megisahkan kisah fantasi klasik dengan cerita-cerita kolosal. Mengisahkan cerita dengan setting yang luas, tokoh yang tidak sedikit, cerita kepahlawanan yang apik, dan dongeng yang agung merupakan kreativitas yang harus terus menerus dikembangkan. Novel ‘Ledgard’ karya penulis muda asal Yogya ini berupaya membangkitkan cerita-cerita fantasi klasik tersebut.
Dunia penceritaan kita saat ini, dengan fokus cerita kolosal fantasi klasik, telah dipenuhi oleh karya-karya asing, baik dalam bentuk film ataupun buku-buku terjemahan. Di tengah situasi yang demikian ini, karya-karya fantasi penulis lokal layak mendapat sambutan yang positif. Novel ‘Ledgard’ ini hadir dengan karakter khas yang mudah diikuti.
Kisah ini terjadi di sebuah jagad bernama Ledgard, tepatnya di kota Iffaret, sebuah kota kecil yang paling aman di bangsa Cursive. Para prajurit kota berpatroli setiap hari. Kisahnya bermula ketika tiga prajurit kota Iffaret mendapat tugas patroli untuk menjaga hutan. Mereka adalah Nash, Rhavi, dan Deedek. Nash dan Rhavi adalah prajurit dari bangsa manusia, sedangkan Deedek berasal dari bangsa Centaur yang memiliki bentuk fisik setengah kuda setengah manusia.
Suatu ketika, keamanan dan kenyamanan kota Iffaret terusik. Terjadi kekacauan di Hutan tempat ketiga prajurit tersebut berjaga. Sesosok makhluk aneh, yang kemudian diketahui berasal dari bangsa Doggorin, menyerang seorang perempuan cantik dari bangsa Kalonn. Vasthi namanya. Dengan sigap, Nash, Rhavi, dan Deedek berusaha menyelamatkan wanita tersebut, sekaligus menyelamatkan kota Iffaret dari kekacauan. Sekali lagi, kota Iffaret aman.
Penyelamatan oleh tiga prajurit tersebut, justru membawa tugas yang lebih berat. Nash, Rhavi, dan Deedek ditugaskan secara khusus mengantar Vasthi pulang ke kampung halamannya. Yakni di sebuah pulau kecil di bagian timur laut kepulauan Latlian. Namanya pulau Cee-Vilalan. Pulau itu berjarak kira-kira tiga hari perjalanan laut dari pulau Latlian. Jadi, sekitar perjalanan sepuluh hari dari Iffaret. Sungguh, tugas khusus yang menantang. Disamping harus mengantar Vasthi dengan selamat ke kampung halamannya, mereka bertiga juga harus tetap menjaga nama baik kota Iffaret.
Cerita pun berlanjut ke petualangan antar bangsa. Berbagai rintangan harus dihadapi. Kisah pun kemudian berjalan secara mengejutkan. Sepeninggal tiga prajurit tersebut, Iffaret luluh lantak oleh serbuan bangsa asing yang datang dari langit barat mengendarai perahu terbang. Serangan terus berlanjut ke daerah-daerah lain di Ledgard. Satu persatu mengalami kehancuran. Tak lama berselang, berita kehancuran tersebut sampai juga ke telinga Nash, Rhavi, dan Deedek. Tidak ada lagi yang dapat mereka perbuat untuk menyelamatkan bangsanya. Satu-satunya yang tersisa adalah menyelamatkan wilayah Ledgard yang lain yang belum hancur. Dengan cara meyakinkan kepada setiap bangsa yang ada di Ledgard untuk bersatu melawan musuh asing tersebut, mereka bertiga lantas berpetualang ke berbagai wilayah. Dari sinilah petualangan untuk menyelamatkan Ledgard dimulai.
Detail. Barangkali kalimat itulah yang tepat untuk mengungkapkan kesan setelah membaca novel ini. Dipadu dengan nilai-nilai dan tradisi timur, novel ini begitu khas. Ceritanya yang luas, sangat mudah diikuti. Dari segi cerita, barangkali karya ini merupakan sebuah karya yang boleh dikatakan, mengikuti komentar artis Irfan Hakim yang tertulis di sampul buku ini, mirip petualangan dalam Lord of The Rings karya J.R.R. Tolkien.
Munculnya ragam prajurit-prajurit dalam novel ini seperti esvath air, esvath udara, esvath, api, tanah, mengingatkan kita akan beberapa tradisi ajaran filsafat Timur tentang manusia yang seringkali mengacu kepada unsur-unsur alam seperti diatas. Dimana setiap unsur mewakili karakter setiap prajurit. Hal inilah yang menjadi kekuatan novel ini sehingga menjadi sebuah bangunan detail cerita yang khas.
Tidak ketinggalan, bumbu drama dalam kisah epik ini juga muncul dengan baik. Kisah cinta antara Nash dan Vasthi tumbuh dengan kuat di kala Nash mengantarkan Vasthi pulang ke kampung halamannya. Pada saat cinta semakin kuat bersemi dalam hati mereka, kabar kehancuran kota Iffaret memisahkan mereka. Nash harus bertualang menyelamatkan bangsa di Ledgard yang masih tersisa, sementara Vasthi harus membela tanah kelahirannya mempersiapkan pertahanan bangsanya dari serangan pasukan asing. Kata-kata janji kesetiaan-lah yang masih tersisa sebagai kekuatan.
Menariknya, setiap tokoh dalam novel ini memiliki kisah drama dan permasalahan sendiri-sendiri dalam kehidupannya. Setiap pribadi berusaha mengatasi masalah diri dan kehidupannya tanpa mengabaikan kepentingan bersama. Tentu saja, kisah ini menjadi semacam pertempuran kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.
Teknik bercerita dalam novel ini terasa datar dan mudah diikuti. Tapi sayang, cerita yang apik ini tidak dilengkapi dengan bangunan karakter yang kuat dan seringkali muncul logika cerita yang tampak kedodoran. Dengan buku yang tergolong gemuk ini, seringkali pembaca harus dituntut untuk berlama-lama dengan detail tempat, ruang, kondisi tokoh perorangan dan masyarakat, cuaca, yang kesemuanya justru seringkali tampak menghilangkan kekuatan plot dan alur cerita. Barangkali kesan inilah yang menjadikan novel ini menjadi sebuah karya petualangan dan perjalanan yang hebat sekaligus melelahkan.
Bagi penggemar karya-karya kolosal, karya ini sayang untuk dilewatkan.
Dunia perbukuan dan penerbitan tanah air saat ini memberi kesempatan dan porsi yang lebih besar kepada penulis-penulis lokal. Sungguh, sebuah berita yang sangat positif sekaligus menggembirakan. Tentu saja, proses berjalannya waktulah yang akan mematangkan dunia kepenulisan kita. Pada saat nantinya, akan datang penulis-penulis yang lain yang akan terus menerus memperkaya dan memperkuat khazanah perbukuan di Indonesia. []

Tidak ada komentar: