Selasa, 08 April 2008

sang Penebus


RESENSI BUKU
Oleh: Moh. Ali Fauzi*,

Judul : Sang Penebus
Penulis : Wally Lamb
Alih Bahasa : Esti A. Budihapsari
Tebal : 951 hlm.
Cet. : I, November 2007
Penerbit : Qanita, Bandung


KISAH JIWA YANG HILANG

Wally Lamb melakukannya lagi untuk kita. Sebelumnya, tahun 1992, dengan novel yang berjudul She’s Come Undone, Wally Lamb memenangkan hati pembacanya dengan kisahnya yang sangat menyentuh dan emosional. Narasi yang kuat, karakter tokoh yang memukau dan menyentuh hati setiap pembaca, novel She’s Come Undone dinobatkan sebagai Book of the Year tahun 1992 oleh beberapa media massa di Amerika.
Bagi yang pernah membaca novel tersebut pasti tak pernah melupakan tokoh Dolores Price yang sedang duduk di depan televisi sambil makan kentang goreng. Dia bukan pecandu makanan. Dia putus asa dengan dirinya, dia bingung menghadapai hidupnya yang penuh masalah. Dia telah membuat suatu kesalahan. Kadang, dia belajar dari kesalahan itu, terkadang dia melupakannya sama sekali. Tapi kita selalu simpati atas usaha-usaha yang dilakukannya. Sungguh menakjubkan, Wally Lamb yang merupakan seorang laki-laki mampu menulis dengan sangat detail dan menyentuh tentang apa yang ada dalam hati dan kepala seorang perempuan. Lamb mampu melakukannya dengan sangat baik.
Ya, Wally Lamb mempersembahkan hadiah lagi kepada pembaca. Novel “Sang Penebus” yang berjudul Asli I Know This Much is True ini bukan sekedar novel, melainkan juga pengalaman dan pelajaran hidup. Inilah karakter yang membuat kita terdiam begitu selesai membaca novelnya. Wally Lamb merupakan di antara beberapa penulis yang mampu membuat narasi di atas 900 halaman tanpa membuat jenuh pembacanya. Bahkan setelah 900 halaman, pembaca tetap tidak ingin meninggalkan dunia yang telah diciptakannya untuk kita atau oleh tokoh-tokoh rekaan yang hidup disana.
Novel Sang Penebus ini berat. Ya, berat memulainya dan sangat berat pula melepaskannya. Layaknya emosi-emosi James Patterson yang selalu menarik terus pembacanya tanpa mau melepaskannya.
Novelis besar berleher merah dan pemenang nobel sastra tahun 1949 dari Mississippi, William Faulkner, pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah benar-benar menulis cerita, dia hanya mengikuti karakter-karakter tokohnya dalam menulis novel. Hasilnya, setiap cerita berkembang sangat memikat, tak terduga, dan menggetarkan. Wally Lamb melakukan hal yang sama terhadap novelnya. Karakter menjadi kendaraannya dalam bercerita, bukan plot ataupun alur. Dan terbukti, karakter tokoh Lamb begitu hidup dan dekat, kadang membuat kita tertawa, menangis, marah, simpati, merasa kehilangan, dan terharu.
Lamb membuka kisahnya dengan tindakan Thomas yang mengerikan, yakni memotong tangan kanannya dan mengumumkannya sebagai pengorbanan atas nama Tuhan. Sebuah sikap pengorbanan dan kekecewaan atas ketimpangan hidup yang terlalu kompleks. Thomas adalah saudara kembar dari Dominick Birdsey. Thomas dan Dominick adalah saudara kembar yang lahir di tahun yang berbeda. Yang satu di menit-menit akhir tahun 1949, dan satunya lagi di menit-menit awal tahun 1950. Yang satu tampak kuat, melindungi, sekaligus menakutkan, yaitu Dominick. Dan satu lagi tampak lemah, manis, namun mulia, yaitu Thomas.
Hidup bersama ibu kandung dan ayah tirinya, Dominick selalu kuat dalam menghadapi hidup termasuk kekejaman sang ayah tiri. Dominick menghadapi banyak rintangan untuk mendapatkan kebahagiaan. Dia tak pernah tahu siapa ayahnya yang sebenarnya, keluarganya tak berfungsi dengan baik, perkawinannya dengan perempuan cantik yang selalu dicintainya bernama Dessa menjadi kacau dan hancur. Bagaimanapun, penderitaan itu semakin lengkap dengan sebuah kenyataan bahwa saudara kembarnya, Thomas, menderita Schizophrenia.
Lingkungan Amerika yang serba modern, cepat, sekaligus kejam menjadi setting yang sempurna dalam kisah ini. Novel ini menunjukkan dengan sangat tajam apa yang telah dialami masyarakat Amerika pada pertengahan kedua abad ke-20. Tema novel pun berkembang sangat beragam, dari kisah cinta, psikologi, penyakit mental, disfungsi keluarga, AIDS, pembunuhan, politik, hingga persoalan agama. Semua teramu dengan apik, begitu kuat, memilukan, dan sangat memikat dari halaman ke halaman.
Untuk menyeimbangkan hidup diri, saudara kembar, dan keluarganya yang masih tersisa, Dominick tidak hanya harus bergulat menghadapi beratnya hidup dan menghadapi masa lalunya yang kelam, namun juga harus menghadapi sebuah rahasia tentang diri dan masa lalu keluarganya. Dia pun melakukan perjalanan yang mengagetkan untuk menemukan misteri siapa sebenarnya ayah dan nenek moyangnya. Perjalanan inilah yang akan membawa dirinya ke titik balik kehidupan dalam dirinya. Sebuah perjalanan psikologis dan spiritual yang membawanya kepada penemuan buku catatan harian kakeknya yang berjudul The History of Domenico Onofrio Tempesta, a Great Man from Humble Beginnings. Buku inilah yang membuka semuanya.
Dengan kompleksitas makna dan tema yang dikandungnya, novel ini mengalir dengan sangat realistis seolah-olah kita menghadapinya. Sebuah novel yang seolah-olah merupakan derivasi atas karya Pat Conroy yang berjudul The Prince of Tides dan film Dominick and Eugene.
Wally Lamb dengan tokoh protagonisnya, Dominick, tidak hanya menyuguhkan sebuah novel melainkan juga sebuah saga, dongeng, yang terus menerus melahirkan makna. Sebuah kisah yang menguras simpati, empati, tawa dan air mata. Di tahun 1970-an, psikolog anak Bruno Bettelheim menulis “The Uses of Enchantment”, yang berpendapat bahwa sebuah dongeng seharusnya mengandung sebuah emosi yang mendidik bagi anak-anak, mengajari mereka tentang kehidupan, dan mengajari bagaimana menghadapi konflik di luar dan di dalam dirinya sendiri. Maka, novel Sang Penebus karya Wally Lamb ini sangat cukup untuk menjadi novel sekaligus dongeng.
Akhirnya, sebuah buku terkadang hadir dengan fantasi luar biasa, cerita kepahlawanan yang apik, dan penuh visi besar, yang kesemuanya menantang keberanian kita untuk melihat dunia di luar diri kita. Sedangkan buku yang lainnya datang lebih halus, lebih bijaksana, mengajak pembacanya berpikir dari dalam dirinya, memberinya kekuatan untuk menanyakan hidup, kepercayaan, Tuhan, tindakan-tindakan sexual, cinta, politik, atau apapun yang mungkin ada dalam pikiran pembacanya. Novel Sang Penebus ini merupakan wakil dari keduanya. Sebuah novel yang berani, halus, menyentuh, dan menggugah baik secara emosi maupun secara moral.[]

Sabtu, 05 April 2008

The Pianist

RESENSI BUKU
Oleh : Ali Fauzi*, Peminat sastra dan kebudayaan, juga Redaktur majalah "Folder Buku" Yogyakarta

Judul : The Pianist
Penulis : Wladyslaw Szpilman
Alih bahasa : Agung Prihantoro
Cet. : I, 2005
Tebal : xiv + 354 hlm.
Penerbit : C Publishing, Yogyakarta

MUSIK DALAM KEKACAUAN PERANG

Terbit pertama kali dengan judul Death of a City di Polandia tahun 1946, buku ini langsung dilarang terbit oleh penguasa Polandia yang merupakan kaki tangan Stalin. Setelah itu tak pernah dicetak ulang, baik di Polandia maupun di luar negeri. Menurut Wolf Biermann, seperti yang dikatakan dalam penutup buku ini, "terlalu banyak kebenaran yang menyakitkan tentang kerja sama antara orang-orang Rusia, Polandia, Ukraina, Latvia, dan Yahudi dengan orang-orang Nazi Jerman".
Tahun 2002, karya Szpilman terbit dalam bentuk pita seluloid atau film dengan judul The Pianist arahan sutradara Roman Polanski. Film yang meraih sukses ini memenangi tiga Academy Award, termasuk sutradara dan aktor terbaik. Sebuah film yang harus menunggu empat dekade untuk membuatnya. Disebut-sebut sebagai film terbaik tentang pembunuhan massal setelah Schindler’s List karya Steven Spielberg.
Buku ini cukup memikat banyak orang, karena sekaligus menjadi dokumen perang yang tidak biasa. Tidak hanya kisah perseteruan perang, namun buku ini berisi detail-detail kemanusiaan yang bagi sebagian pihak terlalu menyakitkan sebagai kebenaran. Szpilman dapat menjelaskannya dengan apik, sehalus, dan sejujur alunan piano yang dimainkannya seumur hidup. Tidak sentimentil dan sangat menyentuh.
Dibuka dengan pengantar yang sangat bagus dari anak Wladyslaw Szpilman yang bernama Andrzej Szpilman, yang menceritakan bagaimana dia menemukan buku di rak buku ayahnya, ketika dia mencari tahu kenapa dirinya tidak pernah bertemu kakek nenek dari pihak ayah. Dia menyadari bahwa ayahnya bukanlah seorang penulis, melainkan "seseorang yang hidup dalam dan dengan musik". Namun, buku ini bisa sangat signifikan bagi banyak orang.
Kisah ini bermula ketika perang dunia II sampai ke tanah Polandia tahun 1939. Wladyslaw Szpilman lahir 5 Desember 1911 di Sosnowiec, Polandia; bekerja sebagai pianis untuk stasiun radio Polandia. Dia hidup dengan keluarganya di Ghetto (perkampungan minoritas yahudi) Warsawa, Polandia. Mereka adalah keluarga Yahudi.
Meletuslah perang antara Polandia melawan tentara Jerman. Tidak lama setelah itu, tentara Jerman pun berhasil menduduki Warsawa. Tembok pemisah antara tentara Jerman dan warga sipil Polandia ditegakkan dengan kokoh sebagai pembeda. Pembedaan ras, terutama bagi golongan Yahudi di Ghetto sangat menyiksa. Di sana, dari waktu ke waktu, warga yahudi hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Karena secara acak, mereka akan dibunuh dengan sia-sia oleh tentara Jerman.
Perburuan warga yahudi terus berlanjut hingga tahun 1942. sampai tiba waktunya, mereka harus diungsikan ke Umschlagplatz yang terletak di perbatasan Ghetto. Ini semacam kamp di tepi rel-rel kereta api yang dikelilingi oleh jalan-jalan, lorong-lorong, dan trotoar kotor. Sebuah tempat dengan masa depan yang tidak jelas, dimana semua orang mencurigainya sebagai kematian. Sikap tentara Jerman ini "seperti membawa biri-biri ke tukang jagal". Demikian salah satu kalimat yang terucap dengan nada pasrah.
Di Umschlagplatz inilah, akhirnya Szpilman berpisah dengan keluarganya, dan tak mendapatkan khabar apapun hingga dia meninggal. Dia diselamatkan oleh salah seorang tentara Yahudi yang peduli terhadapnya.
Dari seluruh 3,5 juta orang Yahudi yang pernah hidup di Polandia, 240.000 diantaranya mampu bertahan hidup selama kekuasaan Nazi. Sebagai catatan tambahan, diantara enam belas ribu orang Arya yang dikenang di Yad Vashem, sebuah situs penting Yahudi di Jerusalem, sepertiganya adalah orang Polandia.
Kisah Szpilman mencapai puncak ketika dia bertahan hidup terpisah dari keluarga dan orang-orang dekatnya. Dia termasuk salah satu diantara orang-orang yang dipekerjakan setiap hari di wilayah Arya di Warsawa, dan turut menyelundupkan ke dalam Ghetto, bukan hanya roti dan kentang, tetapi juga amunisi dan perlawanan Yahudi. Karena kelaparan yang sangat, perlawanan pun dapat dipatahkan dengan mudah. Perang di Polandia mencapai puncaknya. Szpilman dengan penuh ketakutan dan sembunyi-sembunyi, harus berlindung di belakang orang-orang non-Yahudi. Dia dipindahkan dan disembunyikan dari gedung satu ke gedung yang lain.
Dalam kondisi yang demikian, Szpilman sering mengalami kelaparan. Selama tiga sampai lima hari perutnya tak terisi makanan. Hal ini disebabkan oleh kondisi sembunyi-sembunyi dan pengiriman makanan yang tidak pasti. Namun, semangatnya untuk bertahan hidup tak mampu dipatahkan oleh rasa lapar.
Adalah sebuah kenyataan pada saat itu; apabila seseorang di Perancis menyembunyikan seorang Yahudi, akan dikirim ke penjara atau ke kamp konsentrasi; di Jerman, akan dihukum mati; tetapi di Polandia, seluruh keluarga anda akan dihukum mati.
Kisah panjang Szpilman ini akhirnya menemui sedikit kelegaan, ketika dia dalam kondisi setengah sekarat, ditemukan diantara reruntuhan kota Warsawa dan diselamatkan oleh tentara Jerman kapten Wilm Hosenfeld. Bahkan, Hosenfeld membawakan Szpilman makanan, selimut, dan mantel ke tempat persembunyiannya.
Buku ini ditulis oleh Szpilman persis setelah masa-masa perang tersebut. Peristiwa yang terbentang antara tahun 1939 sampai dengan tahun 1945. Aroma perang dan detail traumanya sangat terasa. Sebuah buku yang di satu sisi menjadi catatan harian mengenang selama perang. Dan di sisi lain, buku ini menjadi semacam terapi bagi Szpilman setelah masa-masa traumatik yang panjang dan melelahkan. Namun, semuanya diungkapkan dengan halus dan mengalir begitu saja. Menurut saya Szpilman adalah seorang penulis yang baik. Dia mampu menerangkan dengan sangat bagus hal-hal yang seharusnya kita ketahui dengan benar.
Setelah berkeliling dunia bermain musik, Szpilman hidup dan tinggal di Warsawa hingga meninggal pada 6 Juli 2000.
Kisah yang hampir sama bagusnya dengan buku aslinya mampu divisualisasikan oleh Roman Polanski. Inspirasi terkuat Roman Polanski dalam membuat film The Pianist datang dari sebuah kenyataan bahwa dia juga pernah menjadi tahanan di Ghetto, Polandia selama perang dunia II. Dia kembali ke Polandia dari Perancis dengan orang tuanya hanya dua tahun sebelum PD II dimulai. Ibunya meninggal di kamp konsentrasi. Dan dia bertemu kembali dengan bapaknya pada tahun 1945.
Akhirnya, The Pianist menjadi semacam catatan harian di ‘neraka’. Namun, kebenaran yang menjadi larangan di masa lalu, menjadi memikat dan menarik perhatian di masa kini. Kebenaran yang diungkapkannya adalah sebuah fakta dari sisi lain kebenaran itu sendiri.

‘THE RING’ DAN PESAN KEMATIAN

RESENSI BUKU
Oleh : Ali Fauzi*, Pustakawan, tinggal di Yogyakarta

Judul : RING
Penulis : Koji Suzuki
Penerjemah : Utti Setiawati
Tebal : 433 hlm.
Cet. : I, November 2005
Penerbit : Qanita, Bandung

‘THE RING’ DAN PESAN KEMATIAN

Koji Suzuki sering disebut sebagai Stephen King dari Jepang. Novel-novel horornya memikat tidak hanya bagi masyarakat Jepang. Karya masterpiece-nya yang berjudul "Ring", telah memukau banyak orang dan menghasilkan tren supernatural baru di seluruh dunia.
Sejarah dunia mencatat dan mengenal Jepang sebagai sebuah negara dengan tradisi lokal tinggi dan teknologi yang maju. Kondisi masyarakatnya yang konsumerisme telah menjadi ancaman bagi keberlangsungan tradisi-tradisi lokal. Persinggungan keduanya terus terjadi. Kondisi inilah yang ditangkap dengan baik oleh Koji Suzuki. Novel yang telah difilmkan di Jepang dengan judul Ringu dan di Hollywood dengan judul Ring ini menggambarkan teror di Jepang pada era postmodern. Sebuah teror yang lahir dari perpaduan tradisi lokal dan dunia modern di Jepang. Sungguh, ancaman ini adalah teror psikologis yang mengkhawatirkan.
Situasi pertentangan antara nilai-nilai lama dan nilai-nilai baru yang terjadi di Jepang dan dunia secara keseluruhan inilah yang telah memberi kekuatan makna tersendiri bagi novel ‘Ring’. Novel ini menarik bukan hanya karena ceritanya yang menegangkan, menakutkan, dan mencekam. Novel yang bersetting di Tokyo ini sangat kompleks, memuat tema-tema seperti misanthropy, hermaphrodisme, gender, kasih sayang, penyakit, media, moralitas, juga nilai-nilai utilitarianisme. Sebuah perpaduan genius yang memikat.
Kisah menarik ini diawali ketika suatu malam di Tokyo, empat remaja tewas dengan tidak wajar di tempat terpisah. Kazuyuki Asakawa, seorang jurnalis surat kabar di Tokyo, adalah orang pertama yang menyadari dan mengetahui peristiwa tersebut dan kemudian tertantang untuk mengungkap misteri di balik kematian yang tidak wajar dan sulit dipahami tersebut.
Ya, semua bermula dari kisah supir taksi mengenai tewasnya Shuichi Iwata yang kemudian mengingatkan Asakawa kepada keponakan istrinya, Tomoko Oishi, yang juga tewas pada malam yang sama dan dengan penyebab yang sama: serangan jantung mendadak. Keyakinan Asakawa pun menguat setelah ia mendapatkan berita dua orang remaja lainnya yang juga tewas pada malam yang sama. Bahwa peristiwa tersebut tidak sekedar kebetulan, melainkan ada misteri yang terselubung. Oleh virus atau apapun.
Penulis novel ini, Koji Suzuki, sengaja membangun karakter cerita dengan sederhana, kuat dan cepat. Setelah melakukan penelusuran, Asakawa pergi ke sebuah resort di Hakone. Sebuah tempat dimana empat remaja tersebut menginap bersama seminggu sebelumnya dan menonton sebuah video yang mengandung kutukan kematian bagi penontonnya, termasuk Asakawa. "Siapapun yang menonton gambar-gambar ini ditakdirkan untuk mati pada jam yang sama satu minggu dari sekarang".
Kutukan itu sebenarnya memiliki penangkal. Celakanya, bagian yang mengatakan tentang penangkal itu, justru rusak terhapus. Maka, Asakawa harus berlomba dengan waktu memecahkan misteri penangkal atau ia sendiri harus mati seperti keempat remaja sebelumnya. Satu-satunya orang yang dapat membantu, yang ada dalam pikiran Asakawa adalah Ryuji Takayama, teman sekolahnya dulu yang juga seorang profesor filsafat.
Kisah ini mengalir begitu dingin dan mencekam. Penulis novel ini menghadirkan plot yang menakutkan dan mengejutkan, yang kesemuanya dibangun berdasarkan kehidupan sehari-hari. Cerita pun bergerak secara mengejutkan. Istri dan anak Asakawa ternyata juga telah menonton video tersebut. Asakawa menjadi takut dan berusaha lebih keras. Akhirnya, sedikit demi sedikit terkuaklah tabir gelap yang melingkupi kutukan itu. Si pembuat kutukan adalah Sadako, seorang gadis jelita yang meninggal dua puluh lima tahun lalu. Ia merekam video maut tersebut melalui lensa matanya dengan kekuatan supranatural yang dimilikinya, mencoba menyampaikan pesan kepada dunia luar (penonton) perihal kematiannya. Petualangan pun dimulai.
Yang membuat novel ini istimewa adalah kompleksitas makna yang dikandungnya. Misal, perubahan jenis kelamin tokoh protagonist Kazuyuki Asakawa yang laki-laki dalam novel menjadi tokoh protagonist berjenis kelamin perempuan dalam filmnya, baik yang di Jepang, (Ringu, 1998), maupun yang di Hollywood (Ring, 2002). Pertimbangan utama memilih tokoh perempuan adalah bahwa tradisi merawat anak perempuan di Jepang bersifat maternalistik atau tugas seorang ibu. Sebenarnya, pemilihan Suzuki dengan karakter laki-laki dalam novel ini adalah ingin memberi wacana baru atas tugas seorang ayah bagi masyarakat Jepang. Tema hermaphrodisme muncul dalam tokoh Sadako. Dan sepanjang novel, persoalan-persoalan moralitas, utilitarianisme bertaburan memperkuat karakter penceritaan novel ini.
Semakin menyentuh dan menarik. Novel ini juga menyajikan tema drama yang tampak kuat meski hanya muncul beberapa saat. Tepatnya, cinta seorang ayah terhadap istri dan anaknya. Sebagaimana diakui oleh Koji Suzuki, dasar tema novel ini sebenarnya tentang cinta Suzuki kepada anaknya. Disamping itu, tampaknya pengarang tidak ingin memberi celah bagi pembaca untuk mengernyitkan dahi. Dengan sangat detail dan apik, Koji Suzuki secara brillian telah menciptakan ketegangan yang mampu membuat betah pembacanya dari halaman ke halaman buku ini. Sebuah kisah horror yang tanpa melibatkan darah.
Bangunan kombinasi antara dimensi mistis dan ilmu pengetahuan modern yang tertuang dalam novel ini sungguh mengagumkan. Psikologi paranormal, studi atas dunia supernatural dan okultisme, seringkali dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun dalam buku ini, psikologi paranormal justru menjadi salah satu kunci untuk menyingkap struktur alam semesta. Hal inilah yang tampak bagi sebagian kalangan disebut sebagai pseudo-science.
Bungkusan lokal atas nilai-nilai universal dalam novel ini menjadikannya sebagai sebuah buku lintas dunia, meski sedikit terbatas ruang lingkupnya. Bagi penyuka kisah-kisah horror dan thriller psikologi, karya-karya Koji Suzuki sangat layak disimak. Bagi pecinta cerita detektif, buku ini sangatlah tidak mengecewakan.
Novel yang dalam versi Jepangnya telah terjual lebih dari tiga juta kopi ini pada akhirnya menjadi sebuah pesan kematian bagi dunia. Sebuah pesan yang akan menggugah kesadaran manusia terhadap diri dan peradabannya. Teror yang mengemuka dalam kisah novel ini hanya bagian dari "sebuah ujian bagi spesies manusia. Di setiap abad, Setan akan muncul kembali dengan samaran yang berbeda. Kau bisa membasminya, dan terus membasminya, tapi dia akan terus datang lagi, lagi, dan lagi"(hlm.433).
Peradaban manusia boleh maju setinggi langit. Namun, anak peradaban itu sendirilah yang akan melahirkan pembunuhnya. Ancaman akan hilangnya perdamaian, kenyamanan, dan ketenteraman manusia bisa menjadi semacam teror kematian untuk dunia. Selamatkanlah diri, keluarga, dan peradabanmu!. Inilah pesan utama buku ini.[]

Gaarder Bertutur Lagi

RESENSI BUKU
oleh : Ali Fauzi

Judul Buku : Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng
Penulis : Jostein Gaarder
Penerjemah : A. Rahartati Bambang
Tebal : 394 hlm.
Cet. : I, Februari 2006
Penerbit : Mizan, Bandung

KISAH NESTAPA PENJUAL DONGENG

Gaarder selalu memiliki ketangkasan khusus dalam memasuki pikiran dan dunia anak-anak. Seluruh anak yang lahir dalam karyanya selalu memiliki keunikan, kecerdasan, dan cenderung eksentrik. Setiap keunikan dalam diri anak-anak khayal Gaarder selalu mencerminkan kebebasan dan kemerdekaan sikap dan pikir. Cerita yang disajikan Gaarder pun selalu mudah diikuti, imajinatif, sekaligus menakjubakan.
Novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng ini merupakan kisah yang kompleks, mengisahkan perjalanan seorang anak dengan bakat imajinasi yang luar biasa menuju kehidupannya yang lebih tua dan dewasa. Novel yang berjudul asli The Ringmaster’s Daughter ini mengukuhkan sekali lagi status Gaarder sebagai salah satu penulis Skandinavia paling menonjol, sekaligus sebagai seorang novelis dan pendongeng yang andal.
Mengisahkan cerita anak-anak dengan segala hobi dan kebiasaannya, masa keremajaan yang harus disiapkan, serta menyiapkan masa tua yang matang adalah bagian dari upaya regenerasi yang berkualitas. Kecerdasan yang lebih, keunikan anak-anak, dan segala macam nilai kejujuran di usia dini adalah sederetan tema yang begitu lihai dipersembahkan oleh Gaarder dalam setiap karya-karyanya. Pembaca setia Gaarder tentu tak bisa melupakan kisah gadis misterius dalam Sophies World (Dunia Sophie), juga kisah menarik lainnya dalam Solitaire Mystery, Christmas Mystery, Maya, Through A Glass Darkly, dan Vita Brevis. Nyatalah, Gaarder telah membuktikannya dengan brillian sebagai pencerita dengan kualitas prima.
Petter "Si Laba-Laba", tokoh utama dalam novel Putri Sirkus ini adalah sosok yang misterius, unik, dan penuh imajinasi. Dialah sosok yang paling membuat penasaran dalam karya Gaarder setelah Sophie Amundsend dalam Dunia Sophie. Sebagaimana anak kecil lainnya, keingintahuan Petter terhadap segala sesuatu begitu besar. Namun, Petter memiliki imajinasi yang begitu bebas, liar, dan kuat. Ia pun sulit menemukan kawan dan lebih suka menyendiri di dalam dunia yang diciptakannya sendiri. Tontonan acara televisi, film-film yang dia tonton bersama ibunya di bioskop telah menciptakan alam yang seolah-olah nyata dalam dunia khayalnya. Akhirnya, ia pun tumbuh tampak menjadi seorang anak yang dewasa sebelum waktunya.
Aktivitas sehari-hari yang dijalaninya bersama sang ibu, telah menginspirasi Petter terhadap dunia perempuan. Ketika sang ibu meninggal, Petter benar-benar masuk dalam kesendirian yang sesungguhnya. Kebebasan berimajinasi Petter pun menemui aral. Imajinasinya bukan terhambat ataupun mandek, melainkan butuh media komunikasi psikis dan fisik untuk menajamkan pisau khayalnya. Dari sinilah, novel ini tampak bukan novel yang sepenuhnya cocok untuk anak-anak. Novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng ini lebih merupakan sebuah pesta pora imaji dan cerita. Sebuah dongeng fantasi untuk orang dewasa.
Mengajak wanita untuk sekedar ngobrol, nonton, bahkan menginap di apartemen telah menjadi kebiasaan sehari-hari Petter sepeninggal ibunya. Dengan gaya hidup seperti itu, Petter membutuhkan penghasilan lebih. Kemampuan imajinasinya yang mengagumkan telah memproduksi secara massal cerita-cerita dalam dunia khayalnya. Akhirnya, Petter menciptakan Writer’s Aid, sebuah program yang didesain untuk menyediakan cerita-cerita bagi pengarang-pengarang besar internasional yang mengalami kebuntuan ide.
Petter memiliki kemampuan bercerita yang sangat prima. Namun dia tidak ingin menjadi penulis. Ketenaran adalah salah satu hal yang dibencinya. Memberi penulis sebuah kompas alur cerita adalah hal yang sangat disukainya. Karena di masa kecil hingga dewasa, Petter begitu terobsesi dengan cerita, dongeng, dan film. Tentu saja, disamping tujuannya untuk mendapatkan penghasilan lebih.
Gaya bertutur Gaarder selalu penuh makna nan ringan diikuti. Beberapa dongengnya begitu mengesankan, bertaburan kata-kata indah, penuh makna sosial, filosofis, kekeluargaan, dan begitu menyentuh. Inilah yang mengingatkan kita akan pentingnya mengkomunikasikan ide dan nilai-nilai moral melalui cerita.
Kehidupan Petter menjadi lebih baik. Salah satu kisah yang paling membuatnya terobsesi sepanjang hidupnya adalah cerita Panina Manina, kisah seorang putri sirkus yang terpisah dengan ayahnya sejak kecil. Setelah menjadi bintang gadis pemain trapeze yang terkenal, Panina Manina harus bertemu dengan ayahnya dalam kondisi patah leher dalam pertunjukan sirkus. Sungguh, sebuah kisah yang mengharukan.
Kisah Panina Manina yang begitu dikaguminya selama ini, ternyata telah mempengaruhi hidup Petter melebihi yang dia bayangkan. Sungguh sebuah alur yang menakjubkan dan tak terduga dari novel ini.
Julukan Petter "si laba-laba" pun telah benar-benar membentuk sistem laba-laba dalam kehidupan Petter. "Sungguh Menakjubkan menjadi seekor laba-laba. Sepanjang hari ia merajut dengan segulung benang yang ada dalam dirinya"(hlm.231). Program Writer’s Aid yang pada mulanya sukses, kini semakin tampak boroknya. Petter mulai terperangkap dalam jejaring yang dibuatnya sendiri. Perselingkuhan penulis berskala internasional pun terbongkar.
Dengan plot yang begitu ragam, kuat, dan ringan, Gaarder—mantan seorang guru filsafat—benar-benar piawai dalam bertutur. Nilai-nilai sosial dan budaya diolahnya dengan sangat ringan. Akhirnya, novel ini menjadi hadiah persembahan tidak hanya bagi penggemar Gaarder, namun juga penggemar dunia fantasi dan dongeng-dongeng klasik.
Dari sebuah novel kecil ini, kita akan merasa mendapatkan sebuah pelajaran yang begitu besar tentang nilai-nilai kebersamaan, kemerdekaan diri, dan pentingnya nilai-nilai keluarga. Bagi penggemar novel-novel filsafat, novel ini tidaklah mengecewakan. Bagi yang tidak menyukai filsafat, novel ini begitu berharga dan amat sayang untuk dilewatkan.[]

MENGUAK EKSOTISME KEJAHATAN LINTAS BUDAYA

RESENSI BUKU
Oleh : Ali Fauzi*, Pustakawan, tinggal di Yogyakarta

Judul buku : Liu Hulan, Jaring-jaring Bunga
Penulis : Lisa See
Penerjemah : Utti Setiawati
Tebal : 639+xvi hlm.
Cet. : I, februari 2006
Penerbit : Qanita, Bandung

MENGUAK EKSOTISME KEJAHATAN LINTAS BUDAYA

Di tangan Lisa See, Cina benar-benar menjadi negara yang luar biasa, eksotis, menakutkan, sekaligus dihormati. Bahkan, untuk cerita thriller dengan plot yang padat, Cina menjadi setting yang sempurna. Lisa See dalam novelnya yang berjudul Liu Hulan, Jaring-jaring Bunga ini telah melakukannya untuk Beijing dengan sangat memikat sebagaimana yang telah dilakukan Sir Arthur Conan Doyle untuk London atau Dashiell Hammett untuk San Francisco pada tahun 1920-an.
Novel yang berjudul asli Flower Net ini sering disebut sebagai Gorky Park zaman ini. Gorky Park merupakan novel thriller internasional karya Martin Cruz Smith yang sangat populer di tahun 1980-an. Novel Liu Hulan yang bersetting di Cina dan Amerika ini pernah meraih nominasi Edgard Award untuk cerita misteri terbaik. Sebuah novel yang menyajikan misteri konspirasi internasional yang berlapis-lapis dan memikat. Sebuah novel yang mampu melihat dengan tajam kecurigaan-kecurigaan dari kota terlarang di balik kesannya yang eksotis di permukaan.
Dunia modern mengenal Cina sebagai Miracle Asia. Kini Cina telah menggeser Amerika sebagai konsumen terbesar dunia untuk berbagai produk. Dalam bidang teknologi, negara itu juga telah menjelma menjadi produsen terbesar di dunia untuk barang-barang elektronik. Tak ada negara yang memainkan permainan ekonomi dunia lebih baik daripada Cina. Namun di balik pertumbuhannya yang cepat itu, Cina juga telah menjadi area bisnis terlarang dan tersembunyi berskala internasional.
Potret kehidupan masyarakat Cina dengan sejarahnya yang besar, dengan perekonomiannya yang begitu cepat inilah yang tergambar sangat apik, mempesona, dan menjadi setting kekuatan cerita dalam novel ini. Sebuah novel yang menjadi sumbangan berharga bagi detail dan kompleksitas dua budaya yang berbeda. Sebuah intrik politik, sosial, ekonomi, sekaligus sebuah pertaruhan akan keberlanjutan tradisi lokal, semuanya terlukis dengan sangat memikat dalam karya Lisa See, seorang novelis perempuan berdarah Cina.
Kisah menegangkan ini bermula dengan terbunuhnya putera seorang duta besar Amerika Bill Watson di sebuah danau beku di taman Bei Hai di dekat Kota Terlarang—Beijing. Pada saat yang hampir bersamaan, di Los Angeles, David Stark dari Kantor Jaksa Penuntut AS, sedang disibukkan oleh temuan mayat Guang Heng Lai—seorang Pangeran Merah anggota komunitas elit politik Cina—di sebuah kapal China Peony yang mengangkut sejumlah imigran gelap Cina yang terapung-apung karena badai di perairan California.
Pemerintah Cina dan Amerika mencurigai adanya keterkaitan dalam kematian tersebut. Mereka pun sepakat untuk menjalin kerjasama dalam memecahkan misteri di balik kejahatan lintas budaya tersebut. Asisten Jaksa Penuntut Umum AS, David Stark bertolak ke Cina menemui Detektif Liu Hulan. Investigasi pun dilakukan. David dan Hulan pun terseret dalam penyelidikan yang mulanya seperti tak berhubungan menjadi kasus yang kait mengkait dan menyeret mereka dalam konspirasi dan jalinan rumit Rising Phoenix, sebuah triad yang saat itu tak tersentuh dan berkuasa baik di Cina maupun Amerika Serikat.
Proses investigasi membawa David dan Hulan ke sudut-sudut wilayah Beijing. Cerita ketegangan ini pun berkembang semakin menarik dengan bumbu-bumbu drama. Yakni sebuah fakta bahwa antara David dan Hulan sebenarnya pernah bertemu dan menjalin asmara ketika Hulan menempuh pendidikannya di AS. Cinta yang telah terkubur sekian lama seakan terungkit kembali ketika secara tidak terduga mereka harus bertugas untuk mengungkap kasus ini secara bersama-sama.
Dengan plot yang sangat padat dan beragam, Lisa See mengembangkan alur cerita dengan brilliant yang mampu membuat pembacanya betah berjam-jam untuk segera menghabiskan novel ini. Perpaduan antara romantisme, ketegangan, penyelundupan, rahasia-rahasia keluarga dan pemerintah, dan cerita detektif menjadikan novel ini masuk dalam daftar bestseller nasional dan sebagai New York Times Notable Book tahun 1997 dan Los Angeles Best Books List tahun 1997.
Karena peristiwa yang terkait dengan pembunuhan tersebut semakin berliku-berliku, maka detektif Liu Hulan menerapkan metode Jaring-jaring Bunga, sebuah metode yang digunakan berabad-abad lalu di Cina. Jaring Bunga adalah jaring bulat hasil pintalan tangan yang dipasangi beban di ujung-ujungnya. Ketika jaring ini dilempar, jaring ini akan berkembang seperti bunga, mendarat di permukaan air, tenggelam ke kedalaman yang gelap dan menangkap semua yang berada dalam lingkupannya.
Mampukah David dan Hulan dengan metode Jaring-jaring Bunga mengungkap misteri di balik pembunuhan tersebut? siapa dan apa yang menyebabkan kematiannya?
Latar belakang sejarah Cina, di antaranya disinggung soal Revolusi Kebudayaan di bawah pimpinan Mao Zedong, serta perang dingin Cina-Amerika, serta kompleksitas tema seperti; nilai-nilai keluarga, kedokteran, kejahatan, perekonomian, pemerintahan, pendidikan, percintaan, nilai-nilai patriarchal, hubungan bilateral Cina-Amerika, semuanya telah menjadikan novel ini istimewa nan sexy. Meski novel ini adalah debut pertama Lisa See, namun dia telah menunjukkan dirinya sebagai pencerita dengan kemampuan dan talenta yang besar.
Nilai-nilai dan tradisi Cina dalam novel ini, serta gaya kehidupan masyarakatnya di zaman modern digambarkan dengan sangat detail, mengagumkan, dan mudah diikuti. Detail kisah tentang kehidupan keluarga dan masyarakat Cina-Amerika yang tergambar dalam novel ini adalah pengembangan fiksi dari buku memoar Lisa See yang berjudul On Gold Mountain: The One Hundred Year Odyssey of My Chinese-American Family, sebuah buku yang menelusuri jejak perjalanan nenek moyang Lisa, Fong See, yang berasal dari Cina. Sebuah buku yang menjadi bestseller nasional dan menjadi New York Times Notable Book tahun 1995.
Pada akhirnya, novel Liu Hulan, Jaring-jaring Bunga yang ditulis oleh mantan jurnalis untuk beberapa media terkenal seperti The New rok Times, Publisher's Weekly, The Washington Post ini menjadi pengetahuan berharga bagi hubungan dua kebudayaan yang berbeda. Novel ini sangat cocok bagi pecinta kisah-kisah romantis, detektif, dan thriller yang menegangkan.[]

Petualangan Yang Melelahkan

RESENSI BUKU
Oleh : Ali Fauzi*, Pustakawan, tinggal di Yogyakarta

Judul : LEDGARD; Musuh Dari Balik Kabut
Penulis : WD Yoga
Tebal : 600 hlm.
Cet. : I, Desember 2005
Penerbit : C Publishing, Yogyakarta

Petualangan Yang Melelahkan

Beberapa tahun terakhir ini, dunia penceritaan kita rindu akan karya novel putra bangsa yang megisahkan kisah fantasi klasik dengan cerita-cerita kolosal. Mengisahkan cerita dengan setting yang luas, tokoh yang tidak sedikit, cerita kepahlawanan yang apik, dan dongeng yang agung merupakan kreativitas yang harus terus menerus dikembangkan. Novel ‘Ledgard’ karya penulis muda asal Yogya ini berupaya membangkitkan cerita-cerita fantasi klasik tersebut.
Dunia penceritaan kita saat ini, dengan fokus cerita kolosal fantasi klasik, telah dipenuhi oleh karya-karya asing, baik dalam bentuk film ataupun buku-buku terjemahan. Di tengah situasi yang demikian ini, karya-karya fantasi penulis lokal layak mendapat sambutan yang positif. Novel ‘Ledgard’ ini hadir dengan karakter khas yang mudah diikuti.
Kisah ini terjadi di sebuah jagad bernama Ledgard, tepatnya di kota Iffaret, sebuah kota kecil yang paling aman di bangsa Cursive. Para prajurit kota berpatroli setiap hari. Kisahnya bermula ketika tiga prajurit kota Iffaret mendapat tugas patroli untuk menjaga hutan. Mereka adalah Nash, Rhavi, dan Deedek. Nash dan Rhavi adalah prajurit dari bangsa manusia, sedangkan Deedek berasal dari bangsa Centaur yang memiliki bentuk fisik setengah kuda setengah manusia.
Suatu ketika, keamanan dan kenyamanan kota Iffaret terusik. Terjadi kekacauan di Hutan tempat ketiga prajurit tersebut berjaga. Sesosok makhluk aneh, yang kemudian diketahui berasal dari bangsa Doggorin, menyerang seorang perempuan cantik dari bangsa Kalonn. Vasthi namanya. Dengan sigap, Nash, Rhavi, dan Deedek berusaha menyelamatkan wanita tersebut, sekaligus menyelamatkan kota Iffaret dari kekacauan. Sekali lagi, kota Iffaret aman.
Penyelamatan oleh tiga prajurit tersebut, justru membawa tugas yang lebih berat. Nash, Rhavi, dan Deedek ditugaskan secara khusus mengantar Vasthi pulang ke kampung halamannya. Yakni di sebuah pulau kecil di bagian timur laut kepulauan Latlian. Namanya pulau Cee-Vilalan. Pulau itu berjarak kira-kira tiga hari perjalanan laut dari pulau Latlian. Jadi, sekitar perjalanan sepuluh hari dari Iffaret. Sungguh, tugas khusus yang menantang. Disamping harus mengantar Vasthi dengan selamat ke kampung halamannya, mereka bertiga juga harus tetap menjaga nama baik kota Iffaret.
Cerita pun berlanjut ke petualangan antar bangsa. Berbagai rintangan harus dihadapi. Kisah pun kemudian berjalan secara mengejutkan. Sepeninggal tiga prajurit tersebut, Iffaret luluh lantak oleh serbuan bangsa asing yang datang dari langit barat mengendarai perahu terbang. Serangan terus berlanjut ke daerah-daerah lain di Ledgard. Satu persatu mengalami kehancuran. Tak lama berselang, berita kehancuran tersebut sampai juga ke telinga Nash, Rhavi, dan Deedek. Tidak ada lagi yang dapat mereka perbuat untuk menyelamatkan bangsanya. Satu-satunya yang tersisa adalah menyelamatkan wilayah Ledgard yang lain yang belum hancur. Dengan cara meyakinkan kepada setiap bangsa yang ada di Ledgard untuk bersatu melawan musuh asing tersebut, mereka bertiga lantas berpetualang ke berbagai wilayah. Dari sinilah petualangan untuk menyelamatkan Ledgard dimulai.
Detail. Barangkali kalimat itulah yang tepat untuk mengungkapkan kesan setelah membaca novel ini. Dipadu dengan nilai-nilai dan tradisi timur, novel ini begitu khas. Ceritanya yang luas, sangat mudah diikuti. Dari segi cerita, barangkali karya ini merupakan sebuah karya yang boleh dikatakan, mengikuti komentar artis Irfan Hakim yang tertulis di sampul buku ini, mirip petualangan dalam Lord of The Rings karya J.R.R. Tolkien.
Munculnya ragam prajurit-prajurit dalam novel ini seperti esvath air, esvath udara, esvath, api, tanah, mengingatkan kita akan beberapa tradisi ajaran filsafat Timur tentang manusia yang seringkali mengacu kepada unsur-unsur alam seperti diatas. Dimana setiap unsur mewakili karakter setiap prajurit. Hal inilah yang menjadi kekuatan novel ini sehingga menjadi sebuah bangunan detail cerita yang khas.
Tidak ketinggalan, bumbu drama dalam kisah epik ini juga muncul dengan baik. Kisah cinta antara Nash dan Vasthi tumbuh dengan kuat di kala Nash mengantarkan Vasthi pulang ke kampung halamannya. Pada saat cinta semakin kuat bersemi dalam hati mereka, kabar kehancuran kota Iffaret memisahkan mereka. Nash harus bertualang menyelamatkan bangsa di Ledgard yang masih tersisa, sementara Vasthi harus membela tanah kelahirannya mempersiapkan pertahanan bangsanya dari serangan pasukan asing. Kata-kata janji kesetiaan-lah yang masih tersisa sebagai kekuatan.
Menariknya, setiap tokoh dalam novel ini memiliki kisah drama dan permasalahan sendiri-sendiri dalam kehidupannya. Setiap pribadi berusaha mengatasi masalah diri dan kehidupannya tanpa mengabaikan kepentingan bersama. Tentu saja, kisah ini menjadi semacam pertempuran kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.
Teknik bercerita dalam novel ini terasa datar dan mudah diikuti. Tapi sayang, cerita yang apik ini tidak dilengkapi dengan bangunan karakter yang kuat dan seringkali muncul logika cerita yang tampak kedodoran. Dengan buku yang tergolong gemuk ini, seringkali pembaca harus dituntut untuk berlama-lama dengan detail tempat, ruang, kondisi tokoh perorangan dan masyarakat, cuaca, yang kesemuanya justru seringkali tampak menghilangkan kekuatan plot dan alur cerita. Barangkali kesan inilah yang menjadikan novel ini menjadi sebuah karya petualangan dan perjalanan yang hebat sekaligus melelahkan.
Bagi penggemar karya-karya kolosal, karya ini sayang untuk dilewatkan.
Dunia perbukuan dan penerbitan tanah air saat ini memberi kesempatan dan porsi yang lebih besar kepada penulis-penulis lokal. Sungguh, sebuah berita yang sangat positif sekaligus menggembirakan. Tentu saja, proses berjalannya waktulah yang akan mematangkan dunia kepenulisan kita. Pada saat nantinya, akan datang penulis-penulis yang lain yang akan terus menerus memperkaya dan memperkuat khazanah perbukuan di Indonesia. []

GENERASI YANG HILANG

RESENSI BUKU
Oleh : Moh. Ali Fauzi,* Pustakawan, Yogyakarta

Judul : FIESTA
Penulis : Ernest Hemingway
Alih bahasa : Rahmani
Tebal : 457 hlm.
Cet. : I, Juli 2005
Penerbit : Bentang, Yogyakarta

GENERASI YANG HILANG

Ernest Hemingway (1899-1961) merupakan sastrawan dunia yang memiliki gaya penulisan yang unik. Kata-katanya sederhana, kompleks, penuh isi, dan mempesona. Hadian Pulitzer dan Nobel sastra pernah menjadi miliknya. Novel Fiesta ini adalah novel panjang pertama Hemingway, yang kemudian melambungkan namanya dalam kesusastraan Amerika. Bahkan, masuk dalam seratus novel modern teratas abad ke-20.
Novel ini lahir pada masa-masa diantara dua perang dunia. Masyarakat mengalami peristiwa kehilangan diri dan harapan. Masa-masa ini dalam kesusastraan Amerika disebut sebagai masa "lost generation". Tokoh sastra masa itu diantaranya adalah Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, dramawan Thornton Wilder, penyair Archibald MacLeish, dan Hart Crane.
Karya Hemingway masa itu secara mayoritas menggambarkan dua tipe masyarakat; pertama, mereka yang kehilangan kepercayaan akan nilai-nilai moral dan sangat terguncang emosinya akibat pd I. Kedua, mereka yang masih memiliki kepercayaan sederhana akan hidup mereka, seperti petinju bayaran, ataupun pengadu banteng. Dalam Fiesta kita akan menemukan detail kisah yang mempesona sekaligus menjadi ingatan sejarah.
Kisah ini bermula di Paris, ketika beberapa karya epik T. S. Eliot The Waste Land dipublikasikan pada 1922. Di kota ini, Jake, lelaki yang dikebiri semasa perang sekaligus narrator dalam kisah ini, hidup dalam komunitas veteran perang di Paris. Suatu ketika dia mengenalkan temannya yang bernama Robert Cohn, lulusan universitas bergengsi di Amerika Serikat dan juga petinju amatir. Tidak seperti Jake yang bekerja setiap hari sebagai jurnalis berita, Cohn masih amatir dalam hal sastra; dia baru saja menerbitkan novel pertamanya dan kesulitan memulai untuk novel keduanya.
Ketika Jake mengenalkan Cohn kepada wanita yang dicintainya, Lady Brett Ashley dalam sebuah bistro, Cohn langsung jatuh cinta. Disamping mencintai dengan tulus kepada Jake, Lady Brett juga menemani kencan Cohn pada masa liburan di Kota San Sebastian, Spanyol. Selanjutnya, Lady Brett tidak mengharapkan apapun hubungan lebih dari Cohn.
Jalinan cinta ini semakin rumit ketika Brett tertarik kepada seorang matador belia, Pedro Romero. Cinta pun bersemi tidak bertepuk sebelah tangan
Hemingway memang merupakan penggemar fanatik adu banteng. Jalinan kisah cinta yang rumit dalam novel ini terasa lebih hidup, dengan kiasan Hemingway, dalam keriuhan fiesta dan pertunjukan adu banteng San Fermin.
Di tengah pesta habis-habisan dan pertunjukan kematian nyaris terjadi setiap hari, mereka ditantang untuk mempertanyakan makna perburuan kesenangan, perebutan cinta, dan apa yang sesungguhnya benar-benar berarti bagi mereka.
Setiap karakter dikembangkan lebih dari sekedar kata dan tindakan, juga lebih dari sekedar deskripsi. Meski demikian, kekuatan Hemingway tetaplah dibangun dengan menggunakan kata-kata sederhana, penuh isi. Konflik individu dan masyarakat dapat tersampaikan dengan sangat halus dan menusuk. Sebuah konflik yang akhirnya menemukan muara pada kemeriahan fiesta adu banteng.
Secara keseluruhan, karya Hemingway menggambarkan kisah-kisah kelam tentang kekalahan, ketidak berdayaan, kehilangan, dan kehampaan. Namun, sejak tahun 1930-an, novel Hemingway banyak bertemakan masalah-masalah sosial.
Hemingway adalah penulis yang mampu membentuk visi kita tentang tanah gersang eksistensial tempat orang-orang telah terputus hubungannya antara satu sama lain dan hidup dalam suatu atmosfer pencekikan emosional dan keputusasaan. Dia selalu berhasil menggambarkan hal-hal rumit dengan bahasa sederhana. Bahkan, ketika sedang mabuk, dia tetaplah seorang genius.
Fiesta bisa menjadi semacam karya yang mengingatkan tentang sebuah moralitas yang tak menentu dalam masyarakat yang merasa lelah dengan kondisi sosial yang kacau. Batasan nilai dan agama lantas dipertanyakan. Sebuah kenangan putus asa yang hadir dan kemudian berganti dengan kemeriahan tanpa henti, pesta tanpa habis.
Dalam menggambarkan kondisi masyarakat setelah perang dunia II, nama Raymond Chandler adalah nama yang paling besar dalam kesusatraan Amerika. Sedangkan Ernest Hemingway merupakan tokoh utama sastra masa-masa setelah Perang Dunia I yang disebut sebagai "lost generation".
Dalam dunia penulisan, Hemingway adalah seorang empu. Pada tahun 1954 dia memperoleh hadiah Nobel sastra. Puluhan karya telah dihasilkan. Kurang lebih lima diantaranya telah difilmkan; From Whom The Bell Tolls, The Killers, The Old Man And The Sea, The Snows Of Kilimanjaro, The Have And Have Not. Hemingway mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri pada tahun 1961 di Ketchum, Idaho.

DYAH PITALOKA; SOSOK PEREMPUAN PEJUANG

RESENSI BUKU
Oleh : Ali Fauzi*, Pustakawan, tinggal di Yogyakarta

Judul : Dyah Pitaloka; Senja di Langit Majapahit
Pengarang : Hermawan Aksan
Penerbit : C Publishing, Yogyakarta
Cet. : I, Desember 2005
Halaman : viii + 328

DYAH PITALOKA;
SOSOK PEREMPUAN PEJUANG

Dyah Pitaloka Ratna Citraresmi adalah putri Maharaja Linggabuana yang memimpin Kerajaan Sunda-Galuh di abad ke-14. Sebagai putri kerajaan Sunda, Dyah Pitaloka menjadi bunga sekaligus permata. Dan kelak ia diharapkan menjadi permata di seluruh Dwipantara. Tapi sebagai perempuan Sunda, ia tetaplah tak berdaya bahkan sekedar untuk menentukan babak hidupnya. Perempuan Sunda di zamannya, hanya akan menjadi bagian dari alur cerita besar yang telah ditentukan oleh semacam pakem besar kehidupan. Di Negeri Sunda, "perempuan hanyalah sosok tanpa nama".
Dengan tradisi kerajaan Sunda seperti inilah, Hermawan Aksan menghadirkan sosok Dyah Pitaloka sebagai perempuan yang memberontak terhadap diri dan tradisinya. Seorang perempuan yang menolak pasrah pada nasib. Perempuan yang ingin menentukan sendiri untuk menjadi dirinya sendiri. Dengan berbekal pengetahuan dari kegemarannya membaca karya-karya sastra, Dyah Pitaloka ingin mempersembahkan cita-citanya mewujudkan perempuan yang merdeka.
Melalui kelebat-kelebat pikiran Dyah Pitaloka, pembaca dibawa ke dalam permenungan mengenai kesetaraan, kemanusiaan, dan pengorbanan. Peristiwa sejarah yang telah usang dimaknai kembali menjadi sebuah novel historis yang menawarkan sentuhan romantis.
Karakter baru Dyah Pitaloka inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi novel yang berlatar sejarah kerajaan-kerajaan dahulu ini. Semangat pemberontakan yang muncul dengan beragam tema, menjadikan novel ini layak baca di era saat ini. Gaya bertutur novel ini, sedikit banyak mengingatkan kita pada kesadaran sejarah yang dimiliki Pramoedya Ananta Toer, juga kearifan bahasa dalam novel-novel Remy Sylado.
Konflik cerita dalam novel ini bermula ketika Dyah Pitaloka menjadi salah satu kandidat dari beberapa wanita yang hendak dijadikan permaisuri oleh raja kerajaan Majapahit, raja muda Hayam Wuruk. Setelah juru lukis kerajaan Majapahit menyerahkan lukisan gambar Dyah Pitaloka, Hayam Wuruk pun jatuh cinta pada sang putri jelita. Lalu, disampaikanlah lamaran resmi yang diterima dengan segala kebanggaan oleh Prabu Linggabuana.
Dyah tak kuasa menolak. Ia tak ingin mengecewakan rama dan bundanya, meski pun sebenarnya ia masih punya cita-cita luhur memajukan kaumnya di negeri Sunda.
Ia ingin, perempuan negerinya tak hanya pandai menjadi istri setia, tetapi juga pandai membaca dan menulis. Ia tak ingin sekadar menjadi seperti Purbasari, yang begitu pasrah dengan nasibnya, juga tidak seperti Dayang Sumbi, si pemalas yang bahkan enggan untuk memungut teropong alat penenunnya. Dyah Pitaloka ingin menyusun kisah hidupnya sendiri. Ia bermimpi, perempuan Sunda kelak juga bisa memimpin negeri sebagaimana cerita yang ia baca dari negeri-negeri seberang di luar Tanah Sunda.
Meski bagi Dyah Pitaloka, pernikahan itu hanya mengukuhkan keyakinannya selama ini bahwa perempuan Sunda tidak pernah memiliki kewenangan apa pun untuk menentukan nasib dirinya sendiri, apalagi orang lain. Namun, keinginan ayahnya untuk mempererat kembali kekerabatan Sunda-Majapahit membawa Dyah Pitaloka kepada cita-cita masyarakatnya yang lebih luhur. Bahkan demi mempererat kekerabatan, raja Linggabuana rela melanggar purbatisti dan purbajati Negeri Sunda dengan mengikuti untuk mendatangi kerajaan Majapahit demi melangsungkan pernikahan, meski sebagai pihak perempuan seharusnya Linggabuana lah yang seharusnya didatangi oleh Hayam Wuruk.
Pesta kebahagiaan inilah yang justru dimanfaatkan oleh Mahapatih Gajah Mada, yang pernah bersumpah tak akan makan buah Palapa (sebagai simbol kesenangan hidup) sebelum seluruh Nusantara bersatu. Untuk melengkapi keberhasilannya menyatukan nusantara, majapahit harus menaklukkan Sunda. Bila tidak bisa menggunakan kekuatan angkatan perang, cara lainnya adalah dengan perkawinan. Pernikahan Dyah Pitaloka dengan raja Majapahit, bagi gajah mada, bukanlah perkawinan raja dengan putri dua kerajaan, melainkan penyerahan upeti sebagai tanda takluk kerajaan Sunda kepada Majapahit.
Linggabuana tentu merasa terhina dengan tipu muslihat ini dan memilih berperang demi tegaknya harga diri dan kehormatan. Dan pecahlah perang di Tegal Bubat, Palagan Bubat. Peristiwa inilah yang dalam sejarah dikenal sebagai Perang Bubat.
Penyajian cerita dalam novel ini begitu mudah diikuti dan terasa tidak menjemukan sebagaimana buku-buku sejarah. Di sisi lain, novel ini juga masih mempertahankan dengan sangat baik istilah-istilah dan tradisi-tradisi Sunda dan Jawa, semuanya dalam bahasa aslinya. Sehingga, aroma masa lalu begitu kuat sekaligus memikat.
Kekayaan novel ini barangkali terletak pada kontekstualitas historis masa lalu. Tema-tema seperti; harga diri, tradisi dan adat istiadat, idealisme, pengkhianatan, peperangan, dan cinta, semuanya memperkaya dan membuat mewah novel ini.
Akhirnya, novel ini menjadi pesan bahwa jangan sampai rusaknya susu sebelanga hanya karena oleh nila setitik. Nama besar Gajah Mada menjadi tercela karena terlalu mementingkan cita-cita besarnya tanpa memiliki satu hal yang tak kalah besar, yaitu cinta.
Lebih jauh, upaya mengangkat kembali sejarah hubungan dua daerah yang berbeda selalu mengandung pesan tentang persaudaraan kedua belah pihak. Meski dalam novel ini tergambar bahwa hubungan antara Jawa—yang dilambangkan dengan kerjaan Majapahit—dan Sunda terbelah, namun semangat yang harus lahir dari pertikaian dan pengkhianatan tersebut adalah semangat menumbuhkan persaudaraan yang lebih besar dan luhur demi tegaknya persatuan dan kesatuan nusantara.

Kisah Manusia dengan 24 Wajah

RESENSI BUKU
Oleh: Ali Fauzi, Pustakawan, Yogyakarta
Judul : 24 Wajah Billy
Penulis : Daniel Keyes
Penerjemah : Miriasti & Meda Satrio
Tebal : 699 hlm.
Cet. : I, Juli 2005
Penerbit : Qanita, Bandung

KISAH MANUSIA DENGAN 24 WAJAH
Pada saat diterbitkan pertama kali, tahun 1982, buku ini tidak mendapatkan sambutan bagus di Amerika Serikat. Sambutan bagus justru datang dari masyarakat Jepang. Namun, setelah beberapa tahun kemudian, ribuan orang dari berbagai negara di dunia menanyakan; apa yang terjadi terhadap Billy selanjutnya?. William Stanley Milligan atau "Billy" adalah orang pertama dalam sejarah, yang melakukan kejahatan besar dan diputuskan tidak bersalah pada tahun 1978 dengan alasan ketidakwarasan, yakni berkepribadian ganda.
Kisah kepribadian ganda sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sindrom pertama yang mampu menarik perhatian masyarakat adalah The Three Faces of Eve karya psikiater Corbett Thigpen dan Hervey Cleckley yang ditulis tahun 1957. Karya yang kemudian difilmkan itu, menceritakan pengalaman mereka dengan pasien yang bernama Eve White. Beberapa puluh tahun kemudian, kisah yang meneguhkan penyakit kepribadian ganda secara jelas adalah Sybil (1973) karya Flora Rheta Schreiber yang mengisahkan wanita dengan 16 kepribadian.
Novel karya Daniel Keyes ini, 24 Wajah Billy, merupakan kisah yang paling kuat, detail, mengharukan, dan dianggap buku paling bagus tentang kepribadian ganda. Mengisahkan tentang Billy Milligan, lelaki Ohio, yang memiliki 24 kepribadian. Sebuah buku yang mampu menarik simpati masyarakat dunia. Sebuah kisah yang meneguhkan sekali lagi, bahwa perpecahan kepribadian (split of personality) tidak selalu merupakan gejala schizophrenia.
Kisah menarik ini dibuka dengan seruntutan peristiwa dan pengaduan pemerkosaan, perampokan, dan penodongan di Ohio State University oleh seorang laki-laki tak dikenal. Berdasarkan ciri-ciri yang diungkapkan korban, maka Billy Milligan menjadi tersangka utama. Billy pun ditangkap dan ditahan. Namun, keberadaannya di penjara justru menjadi awal kehidupan yang tidak disadarinya. Berdasarkan keterangan para psikiater, Billy menderita penyakit kepribadian ganda. Di luar kontrol dirinya, kepribadian itu muncul secara bergantian, dan sangat mengguncang.
Dua puluh empat kepribadian itu diantaranya; William Stanley Milligan ("Billy"),26, sosok pribadi asli atau pribadi inti; Arthur, 22, pria Inggris yang rasional; Ragen, 23, pengelola rasa benci; Allen, 18, orang kepercayaan dan bersifat manipulatif; Tommy, 16, ahli elektronika dan ahli melepaskan diri dari segala macam kunci dan simpul ikatan; Danny, 14, anak yang selalu ketakutan; Christene, 3, si anak sudut; Christopher, 13, abang Christene; Adalana, 19, pemalu, kesepian, wanita lesbian yang menggunakan tubuh Billy untuk memperkosa; Kevin, 20, si perencana perampokan & penjahat kelas teri; Philip, 20, si penjahat Brutal; April, 19, si perempuan brengsek yang berambisi membunuh ayah tiri Billy; dan lain sebagainya, termasuk "Sang Guru", 26 tahun, sosok yang merupakan kesatuan dari seluruh kepribadian, dan dianggap Billy seutuhnya.
Setelah diputuskan tidak bersalah, Billy mendapat perawatan dari pemerintah. Di rumah sakit jiwa milik negara, Athens Mental Health Center, Billy mendapat perawatan dari seorang psikiater ternama, Dr. David Caul. Dan selanjutnya, juga bertemu dengan seorang penulis yang akan menuliskan kisahnya kelak.
Maka, buku ini tidak hanya menjadi sebuah rekaman seorang berkepribadian ganda, namun juga menjadi kesaksian nyata selama dua tahun penulis novel ini, Daniel Keyes.
Di bagian dua, pribadi "sang Guru" menarik ingatan Billy ke masa kecilnya yang suram. Dimana dia mengalami kekejaman fisik, mental, bahkan kekerasan seksual terhadap dirinya. Trauma dan siksaan di masa kecilnya itulah yang menyebabkan dirinya merasa butuh "inner self helper" atau penolong di dalam diri, yang kemudian melahirkan beberapa kepribadian untuk bertahan hidup.
Keterpecahan kepribadian sebenarnya merupakan mekanisme untuk menyelamatkan jiwa. Saat ada masalah yang begitu berat, seseorang akan mencoba meyakinkan bahwa bukan dirinya yang mengalami. Ia akan menganggap, trauma itu bukan lagi miliknya. Dari sinilah, berbagai karakter pribadi lain biasanya akan muncul.
Di bagian akhir cerita, menyorot masa-masa seusai kemelut dan kegoncangan jiwa. Pribadi "Sang Guru" mulai semakin percaya diri, dan mulai mau dipanggil Billy. Kepribadian dan kehidupan Billy sudah mulai terbebas dan terkontrol. Pada sekitar bulan Februari 1979, Billy membaca surat ayah tirinya kepada Mr. Herb Rau yang didapat dari Miami News. Surat itulah yang akhirnya membuat Billy tidak siap menerima kebenaran tentang kehidupan keluarganya. Pribadinya pun terpecah lagi. Kali ini, Billy dapat mengontrolnya lebih cepat.
Serangan terhadap dirinya datang pula dari pihak pemerintah dan koran setempat, yang lagi-lagi, menggoncang jiwa Billy dengan sangat keras. Kesabarannya tak terkendalikan. Kepribadiannya terpecah lagi. Dia frustasi, dan hampir bunuh diri. Dari sinilah, tantangan terus menerus Billy tidak hanya untuk melawan dirinya yang terpecah, melainkan juga harus melawan serangan-serangan profesional dan politis dari luar.
Sebuah novel yang "benar-benar membuat shock." Demikian komentar Flora Rheta Schreiber, penulis Sybil.
Kepribadian ganda adalah masalah kejiwaan yang paling diperdebatkan dewasa ini. Istilah kepribadian majemuk atau multiple personality disorder pun dirubah menjadi dissociative identity disorder oleh Asosiasi Psikiater Amerika (APA) pada tahun 1994, dengan asumsi bahwa tidak ada pribadi ganda dalam satu tubuh, melainkan yang ada adalah kegagalan mengintegrasikan berbagai macam aspek identitas ke dalam kesatuan dirinya.
Yang membuat istimewa novel ini adalah pada cara-cara inovatif penyembuhannya dan kisah yang detail, tajam, dan menyentuh. Penulis novel ini, Daniel Keyes—yang juga penulis Flowers for Algernon dan sukses di 30 negara dalam 27 bahasa yang berbeda—mampu menghidupkan seluruh karakter tokoh dengan penyajian rinci, detail, dan dilengkapi dengan data-data akurat.
Hal penting dalam novel ini adalah apa yang diajarkan oleh Dr. David Caul dalam menangani kepribadian ganda. Yakni bagaimana berkomunikasi dengan baik satu sama lain diantara mereka sendiri. Harapan terbesar setelah proses perawatan adalah lahirnya sebuah kesatuan pribadi yang fungsional.
Akhirnya, buku ini tidak hanya penting bagi profesional dan para psikiater, namun juga bagi siapapun yang ingin melihat lebih dalam terhadap sesuatu yang lain dari kepribadian individu manusia. Film yang diangkat dari kisah ini, yakni The Crowded Room disutradarai oleh Joel Schumacher, sedang dalam tahap proses.
Lebih dari tiga puluh tahun, Billy mengalami keterpecahan diri. Sebuah luka panjang yang menyatu dalam dirinya. Namun, luka itu sangat berharga bagi Billy dan orang lain. Sebagaimana terekam dalam buku ini, dalam masa-masa labilnya, dia mengkampanyekan anti kekerasan terhadap anak. Stiker Bumper yang dibagi-bagikannya bertuliskan: PELUK ANAK ANDA HARI INI. "PELUKAN TIDAK MENYAKITKAN". TOLONG BANTU MENGHENTIKAN PENYIKSAAN ANAK—BILLY.[]

Selasa, 01 April 2008

Beban Berat Perempuan Suci

RESENSI BUKU
Oleh : Ali Fauzi*, Pustakawan

Judul : Perempuan Suci
Penulis : Qaisra Shahraz
Alih Bahasa : Anton Kurnia dan Atta Verin
Tebal : 517 hlm
Cet. : I, Agustus 2006
Penerbit : Mizan, Bandung


BEBAN BERAT PEREMPUAN SUCI


Hampir setiap penulis novel yang keluar dari tanah kelahirannya dan menetap di negara lain, selalu mengangkat tema-tema lintas-budaya dalam setiap karya mereka. Konflik dua nilai dan tradisi yang berbeda selalu memikat di tangan para penulis imigran. Tidak hanya benturan nilai yang terasa menarik, namun narasi yang unik dan detail yang tajam selalu mampu menawarkan pesona yang berbeda. Gaya penulisan ini pulalah yang terdapat dalam diri Qaisra Shahraz, perempuan penulis Inggris kelahiran Pakistan.
Qaisra Shahraz, penulis novel ini, memiliki bakat yang istimewa. Dia tidak hanya sukses di bidang menulis, ia juga sukses di bidang pendidikan. Ketika menjadi jurnalis freelance, ia menulis feature dan artikel untuk beberapa koran dan majalah nasional maupun internasional. Ia juga menulis cerita-cerita pendek, skenario untuk televisi dan radio, juga dengan sangat piawai menulis novel. Maka, tak heran atas berbagai prestasinya itulah, ia masuk dalam daftar The Asian Women of Achievement Awards pada tahun 2002 dan masuk dalam daftar the Muslim News Awards for Excellence tahun 2003.
Novel “Perempuan Suci” ini adalah debut pertama Shahraz dalam menulis novel. Sebuah novel lintas budaya yang bersetting di Pakistan, Kairo, London, Arab Saudi, dan Malaysia. Novel ini merupakan sebuah kisah yang menggambarkan secara khusus salah satu kehidupan masyarakat desa di Pakistan. Tidak banyak novel karya penulis Pakistan yang bersetting kehidupan desa. Beberapa diantara mereka adalah Bapsi Sidhwa dengan novel The Bride (1983), Tehmina Durrani dengan Blasphemy (1998).
Dengan menggunakan tokoh protagonis wanita, Shahraz ingin menunjukkan bahwa wanita di Pakistan memiliki kekuatan, kemandirian dan independensi yang luar biasa. Namun, di balik itu semua mereka sangat lemah dan tidak memiliki kekuasaan untuk mengontrol nasib hidupnya dalam masyarakat. Karena itu, mereka memiliki rahasia dan kisah hidup pribadi yang tidak pernah diketahui masyarakat lain. Kondisi seperti inilah yang tercermin dalam diri Zarri Bano, tokoh utama novel ini.

Bersetting di Sindu, Pakistan, Zarri Bano adalah wanita yang sangat beruntung; cantik, tumbuh dalam keluarga muslim yang kaya, hidup dengan kemewahan, dan berpendidikan tinggi. Di umurnya yang ke 27 tahun, Zarri Bano belum juga menikah. Berbagai pinangan laki-laki dari berbagai penjuru daerah di Pakistan, tidak ada yang menarik hatinya. Suatu ketika, lelaki dari Karachi, Sikander Din, telah membuat hatinya terpikat dan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Cinta pun bersemi. Pesta pertunangan pun diadakan dengan resmi.
Dengan penciptaan karakter tokoh yang kuat, alur cerita pun bergerak cepat. Sehingga kita akan merasakan dan menikmati novel ini halaman demi halaman dengan sangat ringan. Konflik pun bermula ketika Jafar, adik kandung Zarri Bano, meninggal mendadak dalam sebuah kecelakaan. Berdasarkan tradisi nenek moyang yang berlaku, ketika satu-satunya ahli waris laki-laki meninggal dunia, maka ahli waris diturunkan kepada anak perempuan pertama. Perempuan itu disyaratkan tidak akan pernah meninggalkan rumah ayahnya. Akibatnya, dia tidak bisa menikah dan harus menjadi Perempuan Suci.
Zarri Bano pun harus menerima takdirnya sebagai seorang Perempuan Suci, seorang Shahzadi Ibadat. Yakni, perempuan yang harus menikah dengan al-Qur’an, keimanan dan agamanya. Sosok perempuan yang disimbolkan sebagai ulama Islam, seorang guru moral dan keagamaan bagi ratusan perempuan muda di kota dan daerah, seorang perempuan yang menjadi simbol kesucian dan ibadah dalam bentuk yang paling murni.
Konflik cerita berkembang mencapai puncak. Identitas diri Zarri Bano pun terkoyak. Sebagai perempuan yang memiliki gelar master, ia sangat mendukung gerakan feminis. Ia pernah menolak segala macam bentuk tirani, baik oleh laki-laki ataupun oleh masyarakat tertentu. Maka, novel ini berkembang dengan isu yang sangat beragam; feminisme, agama, pertentangan tradisi dan modernitas, serta pencarian identitas sebagai diri dan masyarakat. Kini, ketika sang ayah menghendakinya menjadi perempuan suci, Zarri Bano bagaikan boneka lilin yang bisa dirubah-rubah bentuknya sesuai keinginan sang ayah.
Sebagai Perempuan Suci, tentu saja Zarri Bano tidak bisa dan tidak akan menikah dengan lelaki yang dicintainya. Semua terjadi hanya karena kecemburuan seorang Habib Khan, ayah Zarri Bano, terhadap lelaki yang mencintai anak perempuannya. Dengan keinginan menyelamatkan tanah dan hartanya, sang ayah mengorbankan anak perempuannya untuk melakukan selibat. Sebuah tradisi yang dalam ajaran Islam sendiri tidak pernah ada. Akibatnya, keutuhan keluarga harus menjadi taruhannya. Karena Shahzada, ibu Zarri Bano, tidak menyetujui apabila anak perempuan tercintanya tidak bisa menjadi wanita normal yang menikah dan memberikan cucu kepadanya.
Gaya bertutur novel ini terasa memesona dan sangat apik. Kemampuan penulisnya sebagai pencerita sudah tidak diragukan lagi. Cerita pendeknya yang pertama, A Pair of Jeans dan The Elopement, telah diterbitkan beberapa kali di berbagai negara. Bahkan di Jerman, cerpen tersebut telah menjadi literatur pokok di sekolah dan perguruan tinggi. Sederet penghargaan telah diterimanya di bidang penulisan. Cerpennya yang berjudul New Horizons, New Spheres mendapatkan penghargaan bergengsi Commonword Prize tahun 1988. Cerpennya Perchavah mendapatkan penghargaan Ian St James Award tahun 1994. Bahkan, drama serial TV karyanya, Dil Hee To Hai, sangat populer dan memenangkan dua penghargaan bergengsi. Kemampuan inilah yang ia curahkan untuk menulis novel yang berjudul asli The Holy Women ini. Novel ini memenangkan Jubilee Award pada tahun 2002.
Membaca novel ini serasa menyaksikan langsung dan berada di Pakistan. Aroma lokal sepanjang halaman buku ini sangat terasa dengan dipertahankannya istilah-istilah lokal dalam bahasa Urdu. Keistimewaan novel ini memuncak pada titik balik cerita. Yakni ketika lelaki yang dicintai Zarri Bano, Sikander, harus menikah dengan adik kandungnya sendiri, Ruby.
Keistimewaan novel ini terletak pada narasi yang unik, plot yang memukau, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan kemasan cerita cinta, kisah pertautan agama dan tradisi, benturan nilai-nilai lama dan nilai baru yang saling bertautan, pertentangan modernitas dan tradisionalitas yang saling bertemu, semua dibungkus dengan sangat indah, sederhana, logis, apik, yang membuat novel ini menjadi begitu memikat dan mengalir, layaknya kita menonton film “Jumanji”.
Menjadi perempuan suci, baik secara tradisi maupun agama, tidaklah mudah. Ia harus menguasai ilmu-ilmu agama dengan sangat baik. Ia dituntut untuk mengunjungi beberapa daerah dan negara untuk menyampaikan pesan-pesan Allah yang tertuang dalam al-Qur’an. Namun, sekali lagi, kesempatan untuk menyempurnakan hidup dengan meraih kebahagiaan dalam menikah menjadi hal yang sia-sia. Inilah permainan spektrum emosi yang saling bertabrakan antara agama dan dosa. Sebuah perpaduan unik dan mempesona dari seorang Qaisra Shahraz.
Novel Perempuan Suci, pada akhirnya, tidak hanya berpesan pada masyarakat tertentu. Meski dalam kemasan lokal, nilai-nilai yang tersirat di dalamnya begitu luas dan universal. Tradisi lokal yang ditampilkan dalam novel ini hanyalah sebuah potret bagaimana sebuah tradisi bertahan dalam pusaran zaman yang serba modern. Ia mengajarkan kita untuk saling mengenal tradisi, agama, dan budaya yang berbeda. Ia mengajarkan kedewasaan bersikap, menemukan identitas diri, dan ketulusan untuk memaafkan.[]

Belajar Menulis dari Stephen King

RESENSI BUKU
Oleh : Ali Fauzi,* Pustakawan

Judul : STEPHEN KING ON WRITING
Penulis : Stephen King
Pengantar : Remy Sylado
Penerjemah : Rahmani Astuti
Tebal : xl + 413 hlm.
Cet. : I, September 2005
Penerbit : Qanita, Bandung


Belajar Menulis dari Stephen King

Tidak dapat disangkal, Stephen King adalah orang yang piawai dan selalu sukses membuat cerita dan meramu kata, dalam setiap karya-karyanya. Bahkan setelah seribu halaman, pembaca tetap tidak ingin meninggalkan dunia yang telah diciptakan oleh si pengarang untuk kita atau oleh tokoh-tokoh rekaan yang hidup disana. Dia selalu mampu menghipnotis pembacanya dan membuatnya betah. Tak heran, novelnya selalu ditunggu dan laris di pasaran.
Stephen King, si Raja Horor, sempat merasa ragu menulis buku ini. Menulis tentang menulis biasanya dilakukan bukan oleh para penulis novel populer seperti dirinya. Keyakinan itu datang lewat sahabatnya, Amy Tan, yang mengatakan bahwa buku ini boleh dan perlu ditulis oleh sang maestro seperti dirinya.
Hasilnya, buku yang berjudul asli On Writing: A Memoir of the Craft ini mendapat sambutan luar biasa, dan meraih penghargaan Bram Stoker Award pada tahun 2000 dalam kategori non-fiksi, penghargaan Horror Guild tahun 2001, dan Locus Award tahun 2001. Sebuah buku yang meneguhkan bahwa Stephen King tidak hanya jago menulis fiksi, tapi juga jago menulis non-fiksi.
Untuk membaca buku ini, anda tidak harus menjadi penggemar King. Seperti dalam setiap karyanya, King selalu menjadi penulis bersahabat. Buku Stephen King On Writing ini menyediakan sebuah klinik mini penulisan yang sangat nyaman, jujur, menghibur, dan inspiratif. Saat membaca buku ini, pembaca seperti sedang menghadapi sebuah novel gurih yang tanpa sadar—seperti saat kita menikmati novel-novel horornya—yang sudah menghanyutkan kita untuk tidak mengerjakan hal-hal lain selain melahapnya habis.

Buku ini dibuka dengan Curriculum Vitae (biografi) Stephen King. Dia mengisahkan kehidupan masa kecilnya dengan seorang ibu dan kakanya, ketergantungannya pada minuman keras dan heroin, pengaruh istrinya dalam hidup dan karier kepenulisan, kisah karyanya ditolak oleh beberapa penerbitan, dan semua kehidupan sebelum dia menjadi penulis terkenal.
Di bagian dua, inti buku ini, King berbagi ilmu dengan menjawab rasa penasaran banyak penggemarnya tentang bagaimana dia memiliki ketrampilan menulis, mendapatkan ide, meramu cerita dengan plot dan detail yang sangat logis, serta memilih diksi. King menunjukkan apa yang dapat kita pelajari tentang kosakata arcane dari H.P Lovecraft, kepadatan Hemingway, autentisitas Grisham, dan obscene artful dari Richard Dooling, fragemen sentence dari Jonathan Kelleremen.
Pelajaran menulis dari sang maestro ini, terasa sangat ringan baik bagi pemula, juga sangat berharga bagi para penulis senior. Sebuah buku pelajaran menulis tanpa merasa diajari, sehingga mampu menggerakkan kita dengan ringan dan penuh tekad. Seperti kata Remy Sylado dalam kata pengantar, “ia menulis dengan cerdas, dengan rasa, dengan ingatan yang tajam, dengan kebajikan, dengan kejujuran, serta tentu saja dengan bahasa yang plastis, sehingga orang yang membacanya telah masuk dengan senang hati ke dalam wilayahnya, terbuai, dan terpuaskan.”
“Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus dilakukan: banyak membaca dan banyak menulis. Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan pintas”, begitulah kata Stephen King. Karena, engkau tidak akan dapat memesona orang lain dengan kekuatan tulisanmu sebelum ada orang lain yang melakukan hal serupa itu kepadamu. Diawali dengan ‘peralatan’ dan persiapan yang harus dimiliki sebelum menulis, King juga melengkapi buku ini dengan contoh-contoh novel terkenal yang baginya penuh dengan kalimat-kalimat tidak perlu dan boros. Sungguh, kekayaan istimewa buku ini.
Buku ini hadir pada saat yang tepat. Ketika tayangan televisi mengisi hampir seluruh aktifitas kita, berarti telah mengambil sebagian besar waktu kita untuk membaca. Pengaruh buruk TV telah secara langsung membelusukkan masyarakat ke pola budaya instan, pamrih hadiah, konsumerisme, slogan gaya hidup, dan segala remeh temeh yang berbau pasar. Karena, dengan “mematikan kotak yang terus menerus berbunyi itu, maka kemungkinan kualitas hidupmu akan meningkat, demikian pula kualitas tulisanmu”(Hlm. 202).
King melengkapi buku ini dengan kisahnya tertabrak mobil pada tahun 1999. Dia menyelesaikan buku ini saat sedang terluka akibat kecelakaan tersebut. sebuah peristiwa yang justru membuat buku ini jauh lebih kuat dan mempesona. Buku ini ditutup dengan rekomendasi King atas sejumlah buku yang dibacanya selama tiga atau empat tahun terakhir ini, dan menurutnya, dalam beberapa hal telah mempengaruhi tulisannya.
Baru-baru ini Stephen King menjadi salah satu pemenang Quills Award untuk buku-buku populer, setelah pada tahun 2003 meraih penghargaan Medal 2003 dari National Book Foundation (NBF) AS, karena selama ini telah menulis lebih dari 200 cerita pendek dan 40 buku.
Kepiawaian King meramu dan mengolah kata, selalu mampu membuat orang untuk membaca, tak terkecuali bagi orang yang tidak pernah membaca buku. Kesuksesannya itulah yang dia terapkan dalam buku ini, yang berisi gabungan antara autobiografi dan saran, inspirasi dan instruksi. Sebuah buku yang menjadi ‘hadiah bagi para penulis’.
Membaca buku ini akan meninggalkan kesan seolah-olah kita mengetahui bagaimana rasanya berpikir seperti Stephen King. Bagi penulis, buku ini amatlah berharga. Bagi pembaca buku, buku ini amatlah penting untuk disimak. Bagi yang tidak suka keduanya, buku ini sangat layak untuk dipertimbangkan membaca di waktu-waktu senggang. Sungguh, akan bermanfaat.